cerita ini merasakan
laguna cerita menghitung waktu
malam sangat terasakan pagi
kata dalam lentera
lentera di atas jendela

sangat senang melihatmu bicara
di sisa laguna
di pinggir waktu
menamakan warna-warna yang baru

adzan berkumandang
di tertatih menjelang malam

aku menemanimu
hingga laguna
mengering
meronta
menyibak kisah
salamku untuknya

Tiga bahasa mengarungi nuansa

Puan bertutur tiga bahasa

Satu canda yang puan beri

Satu senyum yang puan semi

Satu bahasa lagi untuk puan sendiri

Tiga dilema menjelma di sudut ruang

Puan bertutur tiga bahasa

Nikmati harmoni melankoli

Candui syair yang hampir pergi

Semai aura puan di kotak imaji

Puan bertutur tiga bahasa

Pada malam

Pada saya

Pada pekat

Bandung, 09-10-2009, puan menarik simpul senyum pangeran.

batas kata yang aku punya darimu

segenap jiwa ini bertepuk di sisi pundakmu

bila kau selami dengan sepenuh hati

bait-bait senja pasti kan menyelimuti

batas dunia aku dan kamu

refleksi sederhana dari malam dan bintang

air, udara, keheningan nyata

kelip malam kupatahkan

desah tawa kulantunkan

sedetik kan kujalani

bersamamu

rasa air kan membasahi

kerinduanmu

udara membahana

menyeruak di angkasa

kurasakan air membasahi

relung-relung

tanpa suara

bintang-bintang

kata-kata

bait-bait senja

Tiba-tiba detak nadiku berdegup cepat. Aku terbangun tepat ketika kebanyakan orang sedang lelap. Deru napasku masih satu-dua. Keningku berkeringat. Sedikit angin yang berhembus menjadi terlalu dingin. Kutarik napas dalam-dalam. Perlahan detak nadiku teratur. Kurasakan suara jangkrik. Kurasakan detik jam bergerak. Memori ini lagi.

Sekarang yang terpikirkan adalah segelas air. Tenggorokanku terasa kering seperti habis berteriak. Gela situ kuraih gagangnya lalu berjalan menuju dispenser. Kutekan tuas di dispenser berwarna putih itu. Suara airnya berirama. Mengalun perlahan seiring penuhnya gelas itu terisi.

Tiara, engkau hadir kembali…

Tegukan pertama mengalir membasahi kehausanku. Aku kembaili melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Gelas tadi masih kugenggam. Sekarang aku menatap jam di dinding. Dua pagi. Dan mimpi itu masih seperti dialog yang nyata.

Aku kembali meneguk isi gelas itu sampai habis. Sekarang tinggal gelas kosong di genggamanku. Pikiran ini kembali melayang. Sejenak mimpi tadi terasa terulang.

Aku berdiri di tengah latar putih nan cerah. Baju yang aku kenakan juga putih. Semua bersinar. Kemudian datanglah kehadapanku sebuah cermin.

Aku berkaca di hadapannya. Di bagian bahu aku melihat sepasang benda putih berbullu halus. Awalnya aku heran dengan benda itu sampai aku sadar kalau itu adalah sepasang sayap. Ya, sepasang sayap yang bisa membawaku terbang.

Seketika latar putih itu mulai menghitam ketika aku sedang berkaca. Mataku berputar mencari cahaya yang tadi begitu banyak berpendar. Sekarang, aku tak melihat lagi cahaya yang melimpah tadi. Satu-satunya cahaya adalah aku dan sayap yang baru kusadari tak lebih sebagai sebuah pajangan. Ya, hanya pajangan karena aku tak menggunakannya untuk terbang.

Sesuatu yang kini bisa kulihat hanyalah cermin itu dan bayanganku di dalamnya. Cermin yang mendatangiku tiba-tiba. Dan perlahan bayanganku itu memudar. Dan dengan sekonyong-konyong bayangan itu berubah. Dia bukan pantulan diriku lagi. Dia menjadi seseorang yang bangkit dari masa lalu. Tiara. Kekasihku lima tahun yang lalu.

Ia mengenakan gaun putih nan indah. Sama seperti pakaianku, gaun itu pun bersinar. Ia tersenyum. Senyumnya benar-benar seperti Tiara yang biasa aku kenal. Teduh. Damai.

“Tiara,” sapaku. Kemudian dia tersenyum lebih lebar lagi. Manis sekali. Aku sampai tak percaya kalau ini mimpi karena dia terasa nyata.

Dia berbicara, tapi sayang aku tak dapat mendengarnya sama sekali. Dan entah bagaimana akhirnya aku bisa mengerti apa yang ia katakan. Hanya mengerti. Makna tanpa suara.

Setelah pembicaraan tanpa suara itu, ia menyentuhkan jemarinya ke cermin. Aku bisa melihat sinar yang juga memancar dari telapak tangannya. Ya, aku mengerti. Ia ingin aku menyentuhkan jemari ke cermin tepat di atas telapak tangannya. Seperti biasa. Pembicaraan tanpa suara.

Kuangkat tanganku perlahan. Latar hitamnya perlahan mulai memutih. Lalu aku mulai menyentuhkan telapak tanganku perlahan pada cermin itu. Perlahan. Latar putih semakin bersinar. Perlahan. Latar putih itu benar-benar benderang, namun tidakj menyilaukan. Hingga tangan bersentuhan, sinar itu bagaikan ledakan. Cerminnya pecah. Terdengar suara begitu kuat. Dan seketika itu aku terbangun dengan napas terengah. Tiara…

***

Aku mengambil napas dalam. Sudah cukup tenang sekarang. Keringat sudah kulap sebisanya dengan baju tidur ini. Gelas sudah kutaruh di atas laci pakaian. Sekarang siap melanjtkan tidurku kembali.

Tak butuh berapa lama untuk aku kembali ke alam mimpi. Cukup lima menit dan kini aku berada di sebuah taman. Taman yang di penuhi beragam hewan jinak. Langit biru yang luas. Bunga-bunga yang tertata rapih. Dan pelangi sebanyak tujuh buah.

FAREL…

Suara itu memanggilku. Entah datang dari arah mana. Tiara. Ini suara Tiara. Kali ini aku mendengarnya dalam mimpiku. Pembicaraan tanpa suara pun terjadi.

Farel, apa kau melupakan aku?

Tidak, aku sama sekali tidak melupakanmu,

Lalu kenapa kau meninggalkan aku selama lima tahun?

Tiara cahayaku, aku sama sekali gak bermaksud meninggalkanmu, bukankah kecelakaan itu yang memisahkan kita?

Kenapa kau menolak untuk menyentuh tanganku tadi? Apa kau tak lagi menganggapku?

Aku hanya takut tak bisa melepas lagi tanganku, aku terlalu rindu.

Maksud kamu, apa?

Aku gak ingin terjebak dalam masa lalu. Kau memang indah. Dan semua kenangan bersamamu adalah yang terindah. Tapi, aku gak bisa selamanya untuk mengingatmu. Kau ingat kan dengan apa yang selalu aku cita-citakan?

Membahagiakan aku selamanya,

Ya, dan itulah yang aku wujudkan selama ini,

Aku gak ngerti, gimana mungkin kamu ngewujudin keinginan kita sementara kamu ngelupain aku?

Aku gak pernah ngelupain kamu. Apa kamu ingat dengan janji kita dulu, kamu dan aku adalah satu. Kamu bahagia dan aku bahagia. Kebahagiaanmu untukku, dan kebahagianku untukmu. Dan di saat sedih, maka kau tak boleh terlalu sedih karena ada aku di sampingmu. Apa kau ingat?

[jeda terasa panjang sampai suara berikutnya kembali terdengar]

Ya, aku ingat.

[jeda untuk beberapa saat]

Farel, ternyata engkau masih ingat aku

Engkau masih ingat dengan janji kita. Bahkan setelah kecelakan lima tahun yang lalu itu.

Farel, maafkan aku mendatangi mimpimu. Maafkan aku ingin menyentuhmu. Maafkan aku yang mengganggumu.

Aku segera menjawabnya:

Tidak perlu meminta maaf, karena aku senang bisa melihatmu lagi.

Kemudian aku melihat sesosok wanita yang turun dari salah satu pelangi. Wanita dengan senyum yang sangat aku kenal. Kini tampak lebih lega air mukanya. Sinarnya begitu teduh. Dialah Tiara.

“Farel, aku juga senang menatap wajahmu lagi.” dia melangkah mendekatiku. “…aku juga merasa bahagia di alamku sendiri…” senyumnya begitu tenang dan tulus. “Farel, kelak kau akan mendapat penggantiku. Dan entah siapa pun dia kelak, selama kau merasa bahagia, aku juga akan bahagia.” matanya berbahasa dengan damai.

***

Bel pagi mulai terdengar. Sudah pukul lima pagi rupanya. Dering bel segera kuhentikan. Duduk di tepi tempat tidur adalah kegiatan selanjutnya. Kemudian senyuman mulai terukir.

Tiara, tak terasa lima tahun sudah kita tidak bertemu. Ternyata kau masih ada di sampingku.

Angin sejuk meniup wajahku perlahan. Mengusap belakang leherku dengan penuh kelembutan. Tiba-tiba masa enam bulan hubungan aku dan dia teras terjadi lagi. Aku merasa tenang. Ini sentuhan terlembut. Selembut angin. Selembut matahari. Dan selembut embun. Cinta itu tak pernah mati jika mencintai dengan setulus hati.

Memori ini begitu kuat, bahkan tak terkalahkan oleh waktu. Tak peduli lima tahun atau lebih, waktu takkan bisa menghapusnya. Karena cinta tak lekang oleh waktu.

Srudoks!!! Argh!!! Baiklah, dari judul di atas, tentu pembaca yang budiman sudah tahu apa artinya. Ya, perkembangan novel! Lalu, apa yang akan saya tuliskan?

Baiklah, saya mulai dari satu hal yang saya tidak suka: kosong.

Apa maksudnya? Ya kosong. Tanpa perkembangan. Stagnan. Bayi prematur. Terlalu lama di kandungan si penulis. Maunya apa sih nih bayi?

Oh, saya tidak mengerti, mengapa masih kosong? Mengapa semuanya masih dalam proses persalinan? Ada apa dengan bayiku? Bahkan untuk halaman keempatnya,  oh, mengapa begitu lama? Saya mau meminta maaf kawan-kawan. Otak saya belum bisa berputar secepat roda F1 itu. Saya harus berpikir, menganalisi, dan tetap: kosong.

Sekali lagi saya minta maaf. Ini bukan hal yang baik untuk di-posting-kan, tapi saya tetap harus menulis perkembangannya. Semangat! Srudoks!!!

Kembali menulis laporan mengenai perkembangan novel dari minggu ke minggu. Ini bukan hal yang mudah. Anjing di depan kamar kost saya masih menunjukkan gejala tidak bersahabatnya, menggonggong dengan keras. Mungkin butuh teman ngobrol atau apa, yang jelas saya tidak mengerti mengapa hingga selarut ini (21.51) anjing itu belum tidur.

Mau cerita dulu, berita terburuk dari kamar kost saya. Beberapa hari yang lalu saya baru saja sampai dikosan setelah sekitar sebulan saya tinggal dalam rangka liburan. Saya tiba di depan pintu kamar kost saya. Suasana begitu mencekam. Bau busuk merambati hidung saya hingga bulu hidung saya terasa ikut tercabut. Bau bangkai!

Pembunuhan, pikir saya. Kemudian saya masukkan kunci itu ke dalam lubang kunci. Diputar. Dibuka. Ugh!!! Bau banget!!! Saya menutup hidung saya sebisa mungkin. Ini adalah bau terbau dari seluruh bau yang pernah saya baui di Bandung.

Saya mengendap-endap mencari sumber bau. Kemudian akhirnya saya temui Kucing, ikan lele kecil peliharaan saya, sudah mati lemas di dalam toples kue (karena saya tak punya akuarium). Oh tidak, Kucingku! Dia yang biasa menemani saya menulis sepanjang malam! Dia yang biasa saya kageti setiap pagi! Tapi sekarang, sekarang dia mati! Argh!!! Saya menyesal tidak mendengarkan nasehat kakak saya agar menaruh ikan itu di luar, biar penjaga kost yang merawatnya. Oh Kucing, maafkan kesalahan majikanmu ini. Padahal saat pertama saya memilikimu, saya sudah membayangkan betapa mesranya kita begadang berdua saat skripsi sedang saya susun kelak. Oh tidak. Rupanya kenyataan telah merenggut nyawamu, Kucing. Semoga arwahmu tenang di sana….

Back to work!

Novel “Petir” saya telah mencapai tahap yang membanggakan! Terdengar hiperbolis sepertinya, tapi saya memang butuh suatu yang hiperbolis. Seminggu sudah novel itu masih terkungkung dalam bab I-nya. Hanya ada penambahan kata pada halaman berikutnya. Oh tidak. Perkembangan yang buruk!

Saya harap para penikmat tulisan-tulisan saya tidak kecewa dengan postingan kali ini. Jujur, saya mencoba untuk menyuguhkan yang terbaik. Namun sayangnya, saya tidak menemukan ide yang begitu segar di minggu kemarin. Doakan saya ya, semoga minggu ini bab I-nya bisa rampung. Amin…

Secara tidak sengaja saya mengetik alamat sebuah blog milik Raditya Dika, si Kambing Jantan nan gila itu. Dari situ, saya melihat bahwa beliau (beliau di sini menunjukkan betapa tuanya dia dan betapa mudanya saya) sedang menulis sebuah buku yang disebut sebagai Proyek Alfa. Entah kenapa Alfa, mungkin karena ini adalah cerita tentang betapa seringnya seorang Raditya melakukan Alfa alias membolos demi memelihara Kambing Jantannya.

Nah, di situ dia menulis tentang perkembangan proyeknya di setiap minggu. Ngakunya sih dia nulis kayak gini terinspirasi dari Blognya “dee”. Oleh karena itu rekan-rekan sekalian, entah “dee” atau “kambing” ini telah menginspirasi saya untuk membuat tulisan tentang perkembangan novel atau tulisan saya di setiap minggunya.

Masih ingat novel “Labirin Hati”? Ya, tentu kalian tidak ingat karena novel ini memang gagal terbit. Tapi jangan kecewa dulu (siapa juga yang kecewa?), suatu saat novel “Labirin Hati” pun bakal keliatan tajinya. Atau setidaknya keliatan di blog saya karena frustasi gak terbit-terbit.

Lupakan tentang “Labirin Hati” untuk sesaat, sekarang kita beralih ke novel yang baru yang sedang saya kerjakan. Apakah judulnya? Itu juga membuat saya bingung karena sempat saya tulis beberapa prakiraan judul di status facebook, namun sayangnya direspon dengan sangat negatif. Ada yang menyangka ini adalah cerita rakyat. Ada yang mengira ini semacam novel dokumenter tentang hujan. Ada yang menebak novel ini akan ada hubungannya dengan Ponari. Ada lagi yang menyangka ini adalah judul album Peterpan yang baru—ini hanya karangan saya.

Apa pun itu, mereka semua gak salah dalam melakukan penilaian—apalagi yang dihubungkan dengan Ponari. Jujur, novel ini akan bercerita tentang petir. Pada tau petir kan? Itu loh, yang cantik-cantik di kerajaan. Itu selir! Maap…

Kembali ke novel. Genre pada novel ini adalah cinta. Namun karena basi, novel ini berubah genre menjadi fantasi. Kenapa fantasi? Karena fantasi akan lebih mudah diajak menggila ketimbang cinta. Segala jadi masuk akal, dan lebih menarik. Bandingkan, Anda berpacaran sambil menunggang naga atau hanya bersepeda berduaan di atas trotoar? Lebih asyik sambil menunggang naga kan? Nah, karena itulah genre ini dipilih. Terlepas dari hal pacaran, karena menurut saya yang namanya pacaran pemakaman pun bisa menjadi tempat yang asyik buat malem mingguan.

Permasalahan yang tidak begitu penting berikutnya adalah masalah judul. Tadinya saya memberi judul “Sang Petir Legenda”. Bandingkan dengan “Labirin Hati”, mana yang lebih enak didenger dan dibaca. Jauh langit dan bumi dan segala isinya yang berjauhan pula, bukan? “Labirin Hati” jelas lebih menang hitam di atas putih dari “Sang Petir Legenda”. Oleh karena itu, saya cukup mencantumkan “Petir” saja sebagai judul sementara. Walaupun saya kurang suka karena “Petir” adalah judul buku ketiga “Supernova”-nya “dee”.

Sekarang beralih ke perkembangan novel. Alhamdulillah, novel yang sudah terancang sejak berbulan-bulan lamanya, akhirnya… tertulis juga lembar pertamanya pada kemarin hari. Oleh karena itu, saya menamakan minggu ini adalah minggu pertama Petir mengguncang bumi. Cukup lebai untuk sebuah mula, tapi semoga saja tidak berakhir naas seperti “Labirin Hati”. Amin.

meratapi merahnya langit di angkasa
tak satu pun jiwa ini tenggelam
aku merenung di atas limbung
mencari cara untuk kita berbagi mesra

kuawali sajakku dengan satu kenangan
menatap langit yang terus menjulang
apa yang ada saat mata ini terkatup?
merasa hangat dari semua cerita
lalu…

hangat terasa bibir ini membara
entah kapan langit ini mampu kugenggam
kuingin mencari lampu pijar
penerang hati, penenang mimpi
di ujung senja yang takkan lagi
di ujung cinta yang takkan pergi

aku menantimu
di alam mimpiku
menanti cinta, menanti kenangan
biar mesra merangkum kita berdua

Bercerita tentang Fandi, seorang mahasiswa sebuah universitas terkemuka di kota Bandung. Karena dia seorang mahasiswa yang normal, maka wajar bila menyukai seorang wanita. Namun, dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Clara, sebagai wanita yang diincarnya sudah terlebih dahulu menjadi milik rival terberatnya, Choki.

Kondisi ini sempat membuat Fandi berputus asa. Untungnya, Kinta memberinya semangat untuk tetap memperjuangkan perasaannya pada Clara. Tidak ketinggalan, teman-teman lain, seperti Rita, Surta, Dimas, dan Riko juga ikut mewarnai perjalanan Fandi untuk memperjuangkan perasaannya.

Dalam usahanya tersebut banyak halangan yang didapati oleh Fandi. Kejadian demi kejadian menimpa dirinya. Namun, perjuangan butuh kerja keras. Fandi belajar banyak dari semua itu. Akhirnya, Clara mulai tertarik padanya. (more…)

Ini pelajaran anak akun bukan siy…??

gw menggila nih!!

CHIATTTTT!!! BRAAKK BRUKKKK BROANGGG… TOAR, TUNG TUNG!!!

Saksi mata: “Mas, jangan dipukulin Mas, komputernya…”

Saya: “Heh, pernah ngerasain UTS pengakun belum lw??”

Saksi maata: “Belum,”

CHIIIAAATTTT!! JEGER JEGER… UHUK, HUAAAA CHHIATTTT DEZIIINGGG, GROAKKK, BRAK… PLOKKK PLAKKKK. DEZIGGG!!!

Dan akhirnya saksi mata tadi tewas di tangan saya dengan mengenaskan. sementara orang yang melihat tak berani lagi menegur saya.

sekian.

Eh, ada yang ketawa yah?? maju lw kalo berani!! CCCCHHHHHIIIIAAAATTTT!!!!!!!!

maaf kalo isinya sangat brutal, diharapakan kepada anak di bawah umur untuk tidak membacanya, sekiant terima kasi…

JEGGERRR… (Komputernya meledak)

Next Page »