Tiba-tiba detak nadiku berdegup cepat. Aku terbangun tepat ketika kebanyakan orang sedang lelap. Deru napasku masih satu-dua. Keningku berkeringat. Sedikit angin yang berhembus menjadi terlalu dingin. Kutarik napas dalam-dalam. Perlahan detak nadiku teratur. Kurasakan suara jangkrik. Kurasakan detik jam bergerak. Memori ini lagi.
Sekarang yang terpikirkan adalah segelas air. Tenggorokanku terasa kering seperti habis berteriak. Gela situ kuraih gagangnya lalu berjalan menuju dispenser. Kutekan tuas di dispenser berwarna putih itu. Suara airnya berirama. Mengalun perlahan seiring penuhnya gelas itu terisi.
Tiara, engkau hadir kembali…
Tegukan pertama mengalir membasahi kehausanku. Aku kembaili melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Gelas tadi masih kugenggam. Sekarang aku menatap jam di dinding. Dua pagi. Dan mimpi itu masih seperti dialog yang nyata.
Aku kembali meneguk isi gelas itu sampai habis. Sekarang tinggal gelas kosong di genggamanku. Pikiran ini kembali melayang. Sejenak mimpi tadi terasa terulang.
Aku berdiri di tengah latar putih nan cerah. Baju yang aku kenakan juga putih. Semua bersinar. Kemudian datanglah kehadapanku sebuah cermin.
Aku berkaca di hadapannya. Di bagian bahu aku melihat sepasang benda putih berbullu halus. Awalnya aku heran dengan benda itu sampai aku sadar kalau itu adalah sepasang sayap. Ya, sepasang sayap yang bisa membawaku terbang.
Seketika latar putih itu mulai menghitam ketika aku sedang berkaca. Mataku berputar mencari cahaya yang tadi begitu banyak berpendar. Sekarang, aku tak melihat lagi cahaya yang melimpah tadi. Satu-satunya cahaya adalah aku dan sayap yang baru kusadari tak lebih sebagai sebuah pajangan. Ya, hanya pajangan karena aku tak menggunakannya untuk terbang.
Sesuatu yang kini bisa kulihat hanyalah cermin itu dan bayanganku di dalamnya. Cermin yang mendatangiku tiba-tiba. Dan perlahan bayanganku itu memudar. Dan dengan sekonyong-konyong bayangan itu berubah. Dia bukan pantulan diriku lagi. Dia menjadi seseorang yang bangkit dari masa lalu. Tiara. Kekasihku lima tahun yang lalu.
Ia mengenakan gaun putih nan indah. Sama seperti pakaianku, gaun itu pun bersinar. Ia tersenyum. Senyumnya benar-benar seperti Tiara yang biasa aku kenal. Teduh. Damai.
“Tiara,” sapaku. Kemudian dia tersenyum lebih lebar lagi. Manis sekali. Aku sampai tak percaya kalau ini mimpi karena dia terasa nyata.
Dia berbicara, tapi sayang aku tak dapat mendengarnya sama sekali. Dan entah bagaimana akhirnya aku bisa mengerti apa yang ia katakan. Hanya mengerti. Makna tanpa suara.
Setelah pembicaraan tanpa suara itu, ia menyentuhkan jemarinya ke cermin. Aku bisa melihat sinar yang juga memancar dari telapak tangannya. Ya, aku mengerti. Ia ingin aku menyentuhkan jemari ke cermin tepat di atas telapak tangannya. Seperti biasa. Pembicaraan tanpa suara.
Kuangkat tanganku perlahan. Latar hitamnya perlahan mulai memutih. Lalu aku mulai menyentuhkan telapak tanganku perlahan pada cermin itu. Perlahan. Latar putih semakin bersinar. Perlahan. Latar putih itu benar-benar benderang, namun tidakj menyilaukan. Hingga tangan bersentuhan, sinar itu bagaikan ledakan. Cerminnya pecah. Terdengar suara begitu kuat. Dan seketika itu aku terbangun dengan napas terengah. Tiara…
***
Aku mengambil napas dalam. Sudah cukup tenang sekarang. Keringat sudah kulap sebisanya dengan baju tidur ini. Gelas sudah kutaruh di atas laci pakaian. Sekarang siap melanjtkan tidurku kembali.
Tak butuh berapa lama untuk aku kembali ke alam mimpi. Cukup lima menit dan kini aku berada di sebuah taman. Taman yang di penuhi beragam hewan jinak. Langit biru yang luas. Bunga-bunga yang tertata rapih. Dan pelangi sebanyak tujuh buah.
FAREL…
Suara itu memanggilku. Entah datang dari arah mana. Tiara. Ini suara Tiara. Kali ini aku mendengarnya dalam mimpiku. Pembicaraan tanpa suara pun terjadi.
Farel, apa kau melupakan aku?
Tidak, aku sama sekali tidak melupakanmu,
Lalu kenapa kau meninggalkan aku selama lima tahun?
Tiara cahayaku, aku sama sekali gak bermaksud meninggalkanmu, bukankah kecelakaan itu yang memisahkan kita?
Kenapa kau menolak untuk menyentuh tanganku tadi? Apa kau tak lagi menganggapku?
Aku hanya takut tak bisa melepas lagi tanganku, aku terlalu rindu.
Maksud kamu, apa?
Aku gak ingin terjebak dalam masa lalu. Kau memang indah. Dan semua kenangan bersamamu adalah yang terindah. Tapi, aku gak bisa selamanya untuk mengingatmu. Kau ingat kan dengan apa yang selalu aku cita-citakan?
Membahagiakan aku selamanya,
Ya, dan itulah yang aku wujudkan selama ini,
Aku gak ngerti, gimana mungkin kamu ngewujudin keinginan kita sementara kamu ngelupain aku?
Aku gak pernah ngelupain kamu. Apa kamu ingat dengan janji kita dulu, kamu dan aku adalah satu. Kamu bahagia dan aku bahagia. Kebahagiaanmu untukku, dan kebahagianku untukmu. Dan di saat sedih, maka kau tak boleh terlalu sedih karena ada aku di sampingmu. Apa kau ingat?
[jeda terasa panjang sampai suara berikutnya kembali terdengar]
Ya, aku ingat.
[jeda untuk beberapa saat]
Farel, ternyata engkau masih ingat aku
Engkau masih ingat dengan janji kita. Bahkan setelah kecelakan lima tahun yang lalu itu.
Farel, maafkan aku mendatangi mimpimu. Maafkan aku ingin menyentuhmu. Maafkan aku yang mengganggumu.
Aku segera menjawabnya:
Tidak perlu meminta maaf, karena aku senang bisa melihatmu lagi.
Kemudian aku melihat sesosok wanita yang turun dari salah satu pelangi. Wanita dengan senyum yang sangat aku kenal. Kini tampak lebih lega air mukanya. Sinarnya begitu teduh. Dialah Tiara.
“Farel, aku juga senang menatap wajahmu lagi.” dia melangkah mendekatiku. “…aku juga merasa bahagia di alamku sendiri…” senyumnya begitu tenang dan tulus. “Farel, kelak kau akan mendapat penggantiku. Dan entah siapa pun dia kelak, selama kau merasa bahagia, aku juga akan bahagia.” matanya berbahasa dengan damai.
***
Bel pagi mulai terdengar. Sudah pukul lima pagi rupanya. Dering bel segera kuhentikan. Duduk di tepi tempat tidur adalah kegiatan selanjutnya. Kemudian senyuman mulai terukir.
Tiara, tak terasa lima tahun sudah kita tidak bertemu. Ternyata kau masih ada di sampingku.
Angin sejuk meniup wajahku perlahan. Mengusap belakang leherku dengan penuh kelembutan. Tiba-tiba masa enam bulan hubungan aku dan dia teras terjadi lagi. Aku merasa tenang. Ini sentuhan terlembut. Selembut angin. Selembut matahari. Dan selembut embun. Cinta itu tak pernah mati jika mencintai dengan setulus hati.
Memori ini begitu kuat, bahkan tak terkalahkan oleh waktu. Tak peduli lima tahun atau lebih, waktu takkan bisa menghapusnya. Karena cinta tak lekang oleh waktu.