Perpisahan saya dengan gigi bungsu saya akhirnya terjadi juga. Sudah sejak saya SMA, saya divonis bahwa gigi graham bagian belakang sebelah kiri saya itu tumbuh tidak normal. Menurut paradokter atau mungkin paranormal (karena kebanyakan dari dokter adalah orang yang sok tahu, atau saya yang tidak tahu? Sudahlah, tak usah dibahas), gigi yang biasa disebut gigi bungsu ini tumbuh tanpa ijin mendirikan bangunan (emangnya rumah?). Jadi, rahang saya yang terlihat proporsional ini sudah tidak muat lagi bila ditempati oleh satu gigi lagi. Sehingga, gigi ini tumbuh secara liar seperti rumah-rumah di bantaran kali.

 

Karena posisinya yang kurang menguntungkan, maka gigi ini harus dicabut. Tentu tanpa ada ganti rugi, sama seperti pemukiman liar yang digusur. Satu hal lagi yang menyebabkan gigi ini wajib dicabut adalah karena gusi yang menutupi gigi ini tidak terbuka dengan sempurna. Kalau dibayangkan, gigi graham saya yang tumbuh dengan tidak normalnya itu bagian yang keliatannya hanya sedikit, sekitar 29,719% (data ini diperoleh dari badan pengawasan gigi dan gusi, klik di sini kalau bisa). Dengan kata lain, gigi graham alias si bungsu ini tidak muncul di permukaan gusi secara utuh. Ngerti kan? Jadi gini loh, ada gusi sama gigi graham. Nah, graham ini ketutup sama gusi. Dan kata dokter juga gusi ini kemungkinan kecil untuk bisa terbuka, karena rahang bawahnya tidak mungkin melebar lagi, dan kecil kemungkinan untuk gusi ini terbuka seutuhnya.

Graham dan gusi ini akhirnya saya ajak berunding. Mulai dari saya SMA sampai sekarang kuliah. Saya bediskusi dengan graham, katanya ia enggan untuk dicabut. Mungkin bukan kata si graham, melainkan kata si yang punyanya. Lalu saya berdiskusi dengan gusi saya, saya menanyakan bahwa apakah ia bisa membuka jalan untuk si bungsu ini? Tapi ia diam. Memang dia selalu diam, memang gusi mana yang bisa bicara? Orang gila bisa ngaku waras kalau ada orang yang bisa dengar gusi bicara.

 

Akhirnya saya berdiskusi dengan ibu saya. Jelas ibu saya bukanlah graham apalagi gusi. Beliau berkata hai orang-orang beriman (maaf berlebihan, sebaiknya saya ganti). Beliau berkata dalam kitabnya (kayaknya masih berlebihan). Beliau berbicara seenaknya (woy!! Ibu saya tuh, yang sopan dong!! Masa berbicara seenaknya??). Beliau berkata dengan sungguh bahwa tunggu nanti aja, cari dokter yang bagus, dokter yang itu mah udah tua. Nah, begitulah kira-kira hasil diskusinya.

 

Beberapa bulan setelah saya kuliah, entah ada angin mamiri sepoi-sepoi darimana, ibu saya menemukan dokter yang dimaksud. Dokter dengan gelar certified dentist surgery mechanic and transportation also with luxury accommodation (artinya dokter gigi yang dipercaya (ibu saya) dengan peralatan yang lengkap dengan transportasi murah (dekat dari rumah)).

 

Panggilan untuk saya segera pulang pun dilayangkan lewat sinyal-sinyal handphone cdma layar warna huaihuei (merek disamarkan). Untung masih ada tameng yang bisa menepis tawaran manis itu, yakni UAS. Huahahahaha.

 

Sayangnya, tameng UAS hanya berlaku sekitar dua minggu, dan seselesainya UAS saya harus segera pulang. Menyerahkan si bungsu untuk digusur dari pemukimannya. Oh, teganya.

 

Wah, udah panjang aja nih, cerita. Langsung ke peristiwa pencabutan gigi aja yah, biar rame (dan cepet udahan ceritanya).

 

Tepatnya, Sabtu, 17 Januari 2009. Suara-suara mesin berderu. Asap knalpot membumbung tinggi di angkasa. Halilintar bergemuruh. Anak ayam mencari induknya. Mana ibuku, mana ibuku, katanya. Tapi, bukan seperti ini gambarannya.

 

Tepat hari Sabtu itu. Entah jatuh pada Pahing, Wegi, Kliwon, atau Halloween, yang jelas Sabtu itu menjadi mencekam bagi graham alias si bungsu. Kenapa? (Yee, masih nanya lagi!) Karena dia akan segera dicabut.

 

APA!!!

 

Saya diantar ibu saya juga ditemani olehnya. Memasuki ruangan dokter. “Pagi, Dok,” kata ibu saya. Saya juga ikut-ikutan. “Pagi, Dok,” itu kata saya. Dokternya diem aja, tidak senyum, tidak pula cemberut. Tapi terdengar suara “Pagi,”. Wah, dokternya sakti, tanpa menggerakkan bibir sudah bisa menjawab. Oh, ternyata tidak. Dokter itu memang tidak terlihat tersenyum, cemberut, atau menjawab. Jelas, karena si dokter udah memakai masker di mulutnya. Aduh, si penulis bikin tegang aja, kirain dokter sakti.

 

“Ini, Dok, Ivad yang saya ceritain,”

 

Waduh, ibu!!! Apa yang telah engkau ceritakan pada dokter bermulut masker ini? Apakah tentang kebiasaan saya tebar pesona di depan kaum hawa? Atau tentang nilai UN fisika saya yang hancur? Atau tentang garis keturunan saya dari ayah saya? Atau tentang saya kehilangan karcis parkir di Ciwalk? Atau tentang novel saya yang belum kelar juga? Atau tentang kesaktian saya berdalih bahwa IP saya adalah 4.6? oh, tidak,, semua itu memalukan.

 

“Owh, Ivad yang mau dicabut giginya ya?” kata dokter.

 

Owh, ternyata bukan hal memalukan di atas. Sukurlah.

 

Cerita masih berlanjut. Kalau yang sudah bosan, silahkan putar mp3 di computer masing-masing.

 

Dokter itu langsung memberi jalan saya menuju kursi aneh yang bisa naik turun sendiri. Ada bore, ada lampu, ada tembakan angin, dan  banyak kapas. Ruangannya dingin, pengap, angker. Jelas, karena saya takut duluan ngebayangin niy gigi di cabut.

 

“Mau ditutup atau enggak matanya?” Tanya dokter (biar akrab, kita bilang doi aja).

 

“Enggaklah, Dok, saya berani kok,”

 

“Yasudah,”

 

Kemudian saya melihat dokter memegang suntikan. Katanya berisi obat bius. Bentuk suntikannya kecil. Begitu ditusuk ke gusinya, wuih sensasi luar biasa.

 

“Dok, ada efek samping dari suntikannya, gak?”

 

“Gak ada, emang kenapa?”

 

“Kok, saya mual ya?”

 

Yah, gawat. Saya mual banget. Dan tanpa disuruh… huek, benar saja saya muntah. Ugh, mual parah deh, tegang banget, heheehe.

 

“Dok, matanya ditutup aja deh,” kata saya. Parah, tadi saya berani dan sekarang mual begini? Apa kata dunia, hehehehe.

 

Operasi kecil pun dimulai. Proses panjangnya akan saya rangkum di paragraf ini. Pertama-tama tu h dokter ngambil alat-alat. Bor sana dikit, bor sini dikit, semprot-semprot, gunting-gunting, wah pokoknya belum kerasa deh sakitnya. Memang obat bius sangat membantu, tapi sayang tidak selamanya. Pas tuh gigi mulai dicabut pakai gegep atau apalah itu. Sumpah, sakit banget! Gigi digoyang-goyang, rasanya snut-snut, Argh!!! Saya tereak. Dokter juga kaget, terus berhenti dulu sebentar. Terus saya bilang untuk lanjut. Terus tereak lagi, berenti lagi, lanjut lagi, tereak lagi. Gitu terus dari jam sepuluh pagi sampe jam satu siang. Eh, abis itu kiebelet pipis pas di tengah operasi. Geblek ya? Hahahaha. Ujung-ujungnya ditahan deh tuh pipis ampe operasinya kelar.

 

Dan, tercabutlah sudah tuh gigi. Begitu giginya lepas, rasanya lega banget, lebih lega daripada bisul pecah. Beneran deh! Abis gitu dijahit gusinya yang abis dibelek gara-gara ngalangin tuh gigi.

 

“Nanti, minggu depan balik lagi ya, buat nyabut jaitan,” kata dokternya ke saya setelah semua proses nan gila itu selesai.

 

Dalam hati saya, duh dok, gak bisa lebih gak sakit apa?