Sulit sekali memejamkan mata malam ini. Aku kembali melirik lemari bajuku. Di situ aku menaruh coklat berbentuk hati khusus untuk ibuku. Aku ingin memberi ini di pagi hari nanti. Ini hadiah kejutan untuknya, sebuah kado valentine.

Sebenarnya aku tak pernah tahu tentang valentine. Namun teman-temanku di sekolah dasar sudah ramai membicarakan hal ini. Contoh saja Rini yang sudah menyiapkan sebuah lagu untuk dinyanyikan di depan ibunya nanti saat valentine. Belum lagi ada Nino yang katanya diajak oleh ayahnya untuk makan malam bersama ibunya demi menyambut datangnya valentine. Dan banyak teman lainnya yang umumnya ingin memberikan cokelat pada orang tuanya masing-masing.

Lalu aku, aku sendiri belum punya persiapan apa-apa. Aku baru saja mengetahui jika valentine adalah hari kasih sayang. Aku baru tahu bahwa cokelat menjadi begitu sakral di hari itu. Dan aku sekarang sudah tahu, aku juga harus merayakannya. Aku sayang sama ibu. Aku ingin memberinya sebuah hadiah valentine untuk ibu. Aku harus berikan cokelat ini sebagai hadiah valentine, biar ibu tahu kalau aku begitu menyayanginya.
***

Jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Suara-suara orang mengaji mulai terdengar bersahutan antar mesjid satu dan yang lain. Apa kau tahu? Ibu biasa membangunkanku pukul setengah lima dini hari. Berarti tinggal beberapa saat lagi.

Perlahan aku turun dari tempat tidurku. Aku meraba-raba dinding untuk meraih sakelar lampu untuk segera di hidupkan. Kini ruangan tidurku mulai tampak tiap sudutnya.

Aku beralih pada lemari bajuku, tempat menyimpan cokelat itu. Sempurna!!! Cokelat itu masih nampak bagus, dihiasi tulisan “I Love U” berwarna pink. Pasti ibuku terkejut melihat ini. Dan aku akan mengatakan kalau ini adalah hadiah valentine untuk ibu yang sengaja aku beli dengan tabunganku beberapa minggu terakhir ini.

Aku pegang erat cokelat hati itu di depan dadaku. Aku sengaja melakukannya agar saat ibu datang, ibu bisa melihat langsung cokelat ini dan membaca tulisannya dengan jelas. Aku yakin ibu akan terkejut.

Lampu kembali aku matikan. Sekarang aku berdiri di dekat pintu dengan jarak agak jauh, biar saat ibu membuka, ibu langsung melihat aku berdiri di hadapannya dengan cokelat berbentuk hati yang aku taruh di depan dadaku.

—CLEK—

Pintu mulai terbuka. Aku melihat ibuku yang cantik itu kini berdiri di depanku. Ia tersenyum melihat tingkahku.

“Pagi, Jagoan Kecil ibu,” sapa ibu.

“Happy valentine, Ibu,” aku segera menyerahkan cokelat itu untuk ibu.

“Wah, jagoan kecil ibu sudah tahu valentine, makasih ya,” ibu mengambil cokelat itu sambil tersenyum. Tentu tidak lupa, aku langsung dipeluk dan dicium kedua pipiku yang menggemaskan.

Setelah itu, ibu menyuruhku solat dengan nada yang tak kalah menggemaskannya dengan pipi mungilku.“Nah, sekarang jagoan kecil ibu solat subuh dulu ya,”

“Siap, Bu,” jawabku penuh semangat.
***

Seusai solat, ibu menghampiriku.

“Jagoan Kecil,” sapa ibuku.

“Iya, Bu,” jawabku dengan nada kekanakan.

“Mengapa kamu memberi hadiah valentine ini untuk ibu?” tanya ibu. Dan aku dengan semangat menjawab “Karena aku menyayangi ibu,”.

Kemudian ibu tersenyum. “Apa karena hari valentine ini aja kamu jadi sayang sama ibu?” tanya ibu.

“Tidak!, aku menyayangi ibu setiap saat,”

Ibu kembali tersenyum. “Kalau begitu, mengapa hanya valentine kali ini saja kamu memberi ibu cokelat?”

“Itu untuk bukti, Bu, aku sayang sama ibu…” aku mulai tak mengerti apa maksud pertanyaan ibu.

“Sini, biar ibu beri tahu,” ibu menaruhkan kepalaku di pangkuannya. “Sebenarnya setiap kamu tersenyum pada ibu, setiap kamu mencium tangan ibu, setiap kamu mendengar nasehat ibu. Maka setiap itu pulalah kamu telah membuktikan kalau kamu sayang sama ibu,”

Aku masih belum mengerti. Apa ibu tidak suka dengan cokelat itu? Aku jadi penasaran. Aku bangun dari pangkuan ibu. “Tapi, ini kan, hari kasih sayang, Bu, valentine. Dan semua temanku memberi hadiah yang spesial untuk ayah dan ibu mereka. Masa aku hanya memberi senyum saja pada ibu? Ini kan, valentine,” aku menyanggah pernyataan ibu.

“Apa kamu tahu, Sayang? Rasanya sangat tidak adil jika hari kasih sayang hanya terjadi dalam satu hari, karena setiap hari, ibu sangat menyayangi kamu. Dan rasanya tidak adil jika ungkapan itu harus berbentuk cokelat. Apa kamu tahu, Sayang? Senyuman mungilmu yang tulus itu melebihi arti sebuah cokelat, melebihi arti sebuah istana mewah, melebihi segala arti sebuah harta berlimpah.”

Dan saat itu aku langsung terdiam sejenak, kemudian tersenyum. Aku kembali memeluk ibu. Ternyata benar, hangat kasih sayang itu masih ada. Dalam dekapan tulus ibu. Bahkan setiap hari, dan setiap kesempatan.

Kini aku mengerti. Valentine itu ada di setiap hari, karena setiap hari adalah hari kasih sayang. Dan aku berjanji, kali ini adalah valentine pertamaku. Dan tak akan ada lagi valentine berikutnya. Karena mulai sekarang aku mengerti, ungkapan sayang bukanlah sebatang cokelat, ungkapan sayang bukanlah sebuah lagu, namun ungkapan sayang adalah apa yang mampu kau beri dengan tulus kepada orang yang kamu sayangi tanpa pamrih. Selamat hari kasih sayang untuk semuanya dan untuk selamanya.