Bayang-bayang menembus sukma
tanpa tahu mana merah
kau tumpahi aku berjuta cinta
singit yang penuh suram
Kata menjebak, menjerembap
aku dirundung pilu akan tanya
mengering dan bertanya,
mengering dan bertanya…
aku belum bisa menjawab,
ataukah kupu-kupu member petunjuk?
Mungkin di satu bunga yang terpetik,
adakah madu yang lebih segar?
“Romansa, kau memelukku,
tapi kapan kau hadir?
kau tinggalkan mawar untukku,
mawar dengan secarik kertas
‘Di ujung jalan kita mungkin bertemu,’”
Apa lampu-lampu taman,
memberi tanda untuk hidup
memadukan kasih antara kita
bersama serangga-serangga yang iri?
Aku merindukan,
namun aku resah
-apa aku harus menari?-
Jinggaku bukan berarti jingga
padam menjadi hitam
lubuk dalam hati ikut merana
rupanya tak semestinya
aku berteriak…
“Simpan napasmu!
Mungkin aka nada surat berikutnya,
untukmu!”
lalu kau hanya tersenyum
masa bodoh, masa lalu, masaku denganmu,
mungkin hanya tulisan singkat
sebelum malaikat menutup bukunya,
kisah kita tetaplah indah