Ngomong ah...


Bercerita tentang Fandi, seorang mahasiswa sebuah universitas terkemuka di kota Bandung. Karena dia seorang mahasiswa yang normal, maka wajar bila menyukai seorang wanita. Namun, dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Clara, sebagai wanita yang diincarnya sudah terlebih dahulu menjadi milik rival terberatnya, Choki.

Kondisi ini sempat membuat Fandi berputus asa. Untungnya, Kinta memberinya semangat untuk tetap memperjuangkan perasaannya pada Clara. Tidak ketinggalan, teman-teman lain, seperti Rita, Surta, Dimas, dan Riko juga ikut mewarnai perjalanan Fandi untuk memperjuangkan perasaannya.

Dalam usahanya tersebut banyak halangan yang didapati oleh Fandi. Kejadian demi kejadian menimpa dirinya. Namun, perjuangan butuh kerja keras. Fandi belajar banyak dari semua itu. Akhirnya, Clara mulai tertarik padanya. (more…)

Ini pelajaran anak akun bukan siy…??

gw menggila nih!!

CHIATTTTT!!! BRAAKK BRUKKKK BROANGGG… TOAR, TUNG TUNG!!!

Saksi mata: “Mas, jangan dipukulin Mas, komputernya…”

Saya: “Heh, pernah ngerasain UTS pengakun belum lw??”

Saksi maata: “Belum,”

CHIIIAAATTTT!! JEGER JEGER… UHUK, HUAAAA CHHIATTTT DEZIIINGGG, GROAKKK, BRAK… PLOKKK PLAKKKK. DEZIGGG!!!

Dan akhirnya saksi mata tadi tewas di tangan saya dengan mengenaskan. sementara orang yang melihat tak berani lagi menegur saya.

sekian.

Eh, ada yang ketawa yah?? maju lw kalo berani!! CCCCHHHHHIIIIAAAATTTT!!!!!!!!

maaf kalo isinya sangat brutal, diharapakan kepada anak di bawah umur untuk tidak membacanya, sekiant terima kasi…

JEGGERRR… (Komputernya meledak)

Jujur, ini isinya bagus banget. Ketika saya ngenet, tiba-tiba menemukan tulisan ini pada folder E. Rasanya sayang bila tidak berbagi, karena itu tulisan ini saya sebarluaskan via blog yang masih minim pembaca inih. Semoga bermanfaat, dan untuk penulis, semoga diberi ketabahan karena tulisan ini saya publikasikan. Oiya, nama penulis aslinya tertera di bawah, harap maklum yah….

(more…)

Aduh, kangen banget udah lama gak posting lagi di blog sendiri. Mungkin ada sekitar beberapa bulan sejak tulisan “Akhir Cerita Si Gigi Bungsu” dimuat, saya sudah tidak pernah berposting ria lagi. Untuk para fans mohon maaf ya, atas kevakuman saya selama beberapa bulan ini. Bukan maksud hati ingin meninggalkan jagat per-blog-an, tetapi memang banyak hal yang menghambat untuk saya memperbarui tulisan yang ada.

Kenapa tiba-tiba berjudul terima kasih? Jujur saja, ini untuk pengucapan terima kasih kepada semua kawan yang telah memberi ucapan “selamat ulang tahun” kepada saya via dunia maya (fs, fb).

(more…)

 

Perpisahan saya dengan gigi bungsu saya akhirnya terjadi juga. Sudah sejak saya SMA, saya divonis bahwa gigi graham bagian belakang sebelah kiri saya itu tumbuh tidak normal. Menurut paradokter atau mungkin paranormal (karena kebanyakan dari dokter adalah orang yang sok tahu, atau saya yang tidak tahu? Sudahlah, tak usah dibahas), gigi yang biasa disebut gigi bungsu ini tumbuh tanpa ijin mendirikan bangunan (emangnya rumah?). Jadi, rahang saya yang terlihat proporsional ini sudah tidak muat lagi bila ditempati oleh satu gigi lagi. Sehingga, gigi ini tumbuh secara liar seperti rumah-rumah di bantaran kali.

 

Karena posisinya yang kurang menguntungkan, maka gigi ini harus dicabut. Tentu tanpa ada ganti rugi, sama seperti pemukiman liar yang digusur. Satu hal lagi yang menyebabkan gigi ini wajib dicabut adalah karena gusi yang menutupi gigi ini tidak terbuka dengan sempurna. Kalau dibayangkan, gigi graham saya yang tumbuh dengan tidak normalnya itu bagian yang keliatannya hanya sedikit, sekitar 29,719% (data ini diperoleh dari badan pengawasan gigi dan gusi, klik di sini kalau bisa). Dengan kata lain, gigi graham alias si bungsu ini tidak muncul di permukaan gusi secara utuh. Ngerti kan? Jadi gini loh, ada gusi sama gigi graham. Nah, graham ini ketutup sama gusi. Dan kata dokter juga gusi ini kemungkinan kecil untuk bisa terbuka, karena rahang bawahnya tidak mungkin melebar lagi, dan kecil kemungkinan untuk gusi ini terbuka seutuhnya.

(more…)

Tepatnya hari Senin. Bukan hari Minggu atau Sabtu. Apalagi hari ibu, udah lewat tau! Atau hari Sial dan mujur, begitulah kira-kira. Deskripsinya terkesan membingungkan, tapi teruslah membaca. Karena membaca adalah sumber ilmu. Adalah benar pendapat ini.

Bayangkan jika Kamu adalah saya. Kenyataannya tidak mungkin, tapi coba bayangkan. Anda seperti saya, berkacamata, tampan, bersuara cihuy, soleh dan berprestasi, dan disukai banyak wanita. Saya jadi teringat sebuah parody iklan “Enggak semua yang lu baca itu benar”, sepertinya hal ini perlu dipertimbangkan oleh pembaca tentang gambaran diri saya tadi.

Bayangkan Kamu pergi sendirian ke CiWalk (jalan Cihampelas, Bandung). Bayangkan Kamu memasuki parkiran motor yang tidak terlalu ramai. Bayangkan Kamu mengambil tiket parkir. Bayangkan mba-mbanya tonggos. Bayangin udah tonggos, jutek pula. Bayangin mba itu ada bekas luka di pipi kirinya. Udah kebayang? Sebaiknya jangan dibayangkan terlalu lama. Takut gak bisa tidur setelah membaca ini.

(more…)

Sabtu (22/11) kemarin, SMAN 2 Bandung mengadakan bazaar (pensi)-nya. Konon, dalam tahun ini, sekolah tersebut mengadakan sampai dua kali bazaar. Hmmh, hebat juga, duit dari mana ya?? Hehehe, tapi bukan itu yang mau dibahas.

Saya datang ke sekolah itu sekitar jam 12. Cihampelas belum begitu macet, lagipula saya naek motor, jadi, macet pun gak masalah. Saya bingung mau parker dimana? Saya asal pasang aja lampu sign yang menandakan saya cari parker. Tiba-tiba ada “aa” (sapaan kayak “mas”.red) yang memberi aba-aba untuk parker di trotoar. Wew, saya udah males nyari-nyari lagi, yaudah deh, saya parker di atas trotoar. Bayar 2ribu, bo! Hahahha…

Saya masuk dari gerbang utama. Sadis! Lautan manusia! Penuh banget! Bejubel, cuy. Semua jenis kelamin ada di sini, mulai dari ikhwan (cowo), akhwat (cewe), ikhwat (ikhwan-ahwat), ama akhwan (akhwat-ikhwan)-hehehehe. Belum lagi ada calo yang nge-jual tiket seharga 45ribu, padahal aslinya 30ribu. Wew, 15 ribu bisa buat uang makan saya tiga kali, hahaha.

Huff, akhirnya masuk juga. Agak sesak siy-mungkin sangat-, tapi lumayan-lah daripada lancer masuknya, tapi harus bayar lagi 20ribu-dengan tiket vip-padahal mah, nontonnya tetep sama-sama berdiri, hohoho.

Hal yang pertama saya lakukan di sana adalah solat, yaph, udah jam 12 lewat tapi belum solat hehehe. Selesai solat, saya ketemu sama satu anak akun-Unpad yang seangkatan. Ternyata, dia itu alumni SMAN 2, yasudahlah saya dapet temen satu (abis, banyakan yang pada nonton JGTC siy). Eh, ghak tahunya, temen saya itu ketemu sama temen-temennya yang dulu. Saya ikut nimbrung aja, sok kenal.

Sekitar jam setengah satu, saya dan temen dan temen-temen baru saya baru keluar dari mesjid. Setelah mengenakan sepatu, kami langsung bergegas. Tiba-tiba, ada guru yang menyapa teman-teman saya tadi. Kontan saya bingung. Saya pura-pura aja ikut nyapa guru itu. Yang lebih aneh lagi, teman-teman saya langsung pada salaman. Apa yang aneh? Yang aneh tuh, saya. Saya ikut salaman ke guru itu. Dan semakin aneh, tuh guru malah sok kenal gitu ngeliatin ke saya. Etdah, aneh bener.

Perjalanan pun berlanjut menuju panggung utama. Ada band indie yang lagi tampil. Entah apa nama band itu, yang jelas saya enggak menikmati music mereka. Udah nyanyi pake bahasa inggris, tereak-tereak pula. Denger orang ngomong bahasa inggris aja, saya udah puyeng, apalagi ini, ditereakin pake bahasa inggris. Widih…

Karena yang saya tunggu masih lama, maka saya memutuskan untuk pindah ke panggung kedua. Stand-stand bazar. Baru saja saya memasuki areal stand. Eh, udah ada yang tereak Merchandise Peterpan. Langsung aja saya ke sana.

Waw, ada baju peterpan warna putih dengan “sayap” merah dan tulisan “peterpan” berwarna merah juga. Waw, harganya 65ribu. Saya liat financial saya-mengubek-ubek dompet-dan ternyata masih ada uang 75ribu lagi. Cukup-lah. Tapi gak sampe di situ, masih ada gantungan kunci yang pengen saya beli seharga 8ribu. Alhasil, 65+8=72 dan uang yang saya punya, 75. Jadi, 75-72=3, sekarang uang saya yang sisa tinggal 3ribu. Waw, kenyataan menyedihkan, mengingat saya belum makan malam.

Beralih lagi saya ke panggung utama. Rocket rockers kini yang tampil. Sumpah!! Mual banget saya ngeliat band sinting ini manggung. Kalo lagi megang ulekan, rasanya pengen ngegampar niy band pake tuh ulekan. Hahaha, hebat.

Bosan, saya beralih lagi ke mesjid untuk melakukan isodur (istirahat, sholat, dan tidur) dari jam 2 sampe jam 4.

Jam 4, saya kembali bergabung ke panggung utama. Ada satu band gak jelas yang lagi tampil. Gak tahu tuh band apahan, hehehe. Saya langsung menetrasi ketengah-tengah kerumunan orang, karena mulai jam 4 ke atas, bintang tamu utama akan tampil. Maliq dan Peterpan.

Penampilan maliq diawali dengan performance dari band anak buah mereka yakni 21th night. Skip… (menurut saya enggak penting).

Sekitar jam 5, peterpan akhirnya tampil juga. Bintang tamu yang membawa saya rela-rela dateng ke acara ini. Dengan penuh amazement saya melihat Ariel di atas panggung. Woah…!!! DREAMS COME TRUE…!! Ini hal yang pernah saya tulis di postingan seblum ini “Siapa Idulamu?”, dan akhirnya terwujud!

Lagu pertama dibawain adalah “Hari yang Cerah”, dengan diawali dengan suara organ jenis apa itu?-saya enggak tahu-suaranya aneh, berat, dan misterius. Yah, mungkin ada yang tahu??

“Lanjut!!!” teriak Ariel sebelum memulai lagu berikutnya, “Di Balik Awan”

Banyak banget lagu yang dibawain. Bayangin aja sejam sendiri dari jam 5 ampe jam 6. Seingat saya selain yang 2 tadi, ada juga “Topeng”, “Ku Katakan dengan Indah”, “Tak Bisakah”, “Mungkin Nanti”, “Walau Habis Terang”, “Kisah Cintaku”, “Semua Tentang Kita”, “Menghapus Jejakmu”, “Di Atas Normal”, dan saya lupa lagi, abis banyak banget.

Oiya, khusus “Kisah Cintaku” saya rekam di hape saya. Rada patah-patah, tapi it’s still fine-lah, hehehe. Dan di ujung penampilannya, seperti obsesi yang pernah saya tulis. Saya teriak “ARIEELLLLLLLL!!!” sampe suaraku serak gak karuan. Hahaha, puas saya…!! 30ribu saya buat beli tiket gak sia-sia…

AAAARRRRRRRIIIIIIIIEEEELLLLLLLLLL!!!!

Penulis dari buku ini adalah Stephen R. covey. Dia mengupas tiap kebiasaan yang efektif dimulai dari masalah pribadi yang ia hadapi bersama dengan istrinya, Sandra. Mereka memiliki seorang anak yang memiliki kelemahan mental akibat adanya kekurangan fisik.

Pada mulanya, Stephen menggunakan cara yang biasa. Cara ini nihil, mereka hanya melindungi anaknya dan masih menganggap anaknya lemah. Sampai akhirnya berkembang dengan mengubah konsep pembelajaran dari etika kepribadian menjadi etika karakter. Kemudian beralih menjadi kekuatan paradigm. Berkembang lagi menjadi cara kita melihat masalah merupakan masalah itu sendiri. Dan menimbulkan tingkatan baru dalam berpikir.

Proses pemikiran tersebut di atas akhirnya mengantarkan kita pada judul di atas yakni “Tujuh Kebiasaan yang Efektif”. Dengan dimulai dengan definisi “kebiasaan”. Lanjut menjadi kontinum kematangan. Lalu mengenai tujuan kebiasaan yakni kebiasaan efektivitas atau keefektivan suatu kebiasaan. Hal ini akan membawa kita pada tiga jenis asset yaitu: fisik, keuangan dan manusia, yang dalam buku ini dijelaskan pengertiannya satu per satu. Dan akhirnya penulis berharap, kita sebagai pembaca mampu meningkatkan rasa percaya diri secara signifikan. Dan pada akhirnya juga, akan diperoleh kemenangan pribadi, kemudian berkembang menjadi kemenangan public, dan akhirnya menjadi diri yang baru.

Memasuki bagian yang paling dinanti yakni, “Tujuh Kebiasaan yang Efektif”. Kita akan disuguhi oleh beberapa bagian, yaitu: Kemenangan Pribadi, Kemenangan Publik, dan Pembaruan, yang masing-masing bagiannya akan menerangkan kebiasaan-kebiasaan yang efektifnya.

Kemenangan pribadi terdiri atas beberapa kebiasaan. Jadilah proaktif, yaitu menjadi orang yang tidak menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengondisian untuk perilaku kita. Karena perilaku kita adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari kondisi kita, berdasarkan perasaan. Merujuk pada tujuan akhir, yakni untuk memulai hari ini dengan bayangan, gambaran, atau paradigm akhir kehidupan kita sebagai kerangka acuan atau criteria yang menjadi dasar untuk menguji sesuatu. Dan dahulukan yang utama dengan menerapkan manajemen diri yang efektif. Dengan kata lain, kita akan berhadapan dengan kata manajemen yang berarti penguraian, analisa, perunutan, aplikasi spesifik, aspek otak kiri yang terikat waktu dari pengaturan yang efektif.

Kemenangan publik dibangun atas kesalingtergantungan antar idividu. Hal ini memungkinkan untuk asosiasi yang dalam, kaya, dan bermakna, untuk meningkatkan produktivitas secara geometris, untuk melayani, untuk memberikan kontribusi, untuk belajar, untuk bertumbuh. Tetapi juga hal ini memungkinkan kita untuk merasakan sakit yang terhebat, frustasi yang terbesar, penghalang jalan yang terbesar dari kebahagiaan dan keberhasilan.

Kebiasaan-kebiasaan yang menyusun kemenangan publik. Berpikir menang/menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus-menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/menang didasarkan pada paradigm bahwa ada banyak untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain. Selanjutnya berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti dengan terlebih dahulu diawali dengan mendengar secara empatik, yang pada akhirnya akan mewujudkan pengertian satu sama lain. Ketika keadaan sudah seperti ini, maka perbedaan bukan menjadi batu sandungan bagi komunikasi dan kemajuan. Sebagai gantinya, perbedaan tersebut malah menjadi bantu loncatan bagi sinergi. Maka berikutnya wujudkan sinergi dari hasil komunikasi yang saling pengertian, sehingga memunculkan suatu solusi yang disenangi oleh masing-masing individu di dalamnya. Hal ini diibaratkan 1+1 menjadi sama dengan 8, 16, atau bahkan 1600. Karena solusi yang dihasilkan secara sinergistik akan memberi solusi yang lebih baik dari solusi semula (pribadi masing-masing).

Pembaruan akan membawa kita pada satu kebiasaan lagi. Asahlah gergaji sebagai kebiasaan yang melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain. Hal ini menyebabkan terjadinya pembaruan–menjadi lebih baik, dengan hal-hal yang diperbaruinya adalah dimensi fisik, spiritual, mental, dan sosial/ emosional.
mohon maaf kalau banyak kesalahan, semoga bermanfaat :)

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman ibu saya sendiri. Beliau seorang yang mahir dalam hal basah-membasahi hape, begitupun saya. Sebut saja nokia 6600, nokia 6585 cdma, dan nokia 6275 cdma. Semua hape yang tadi disebutkan merupakan korban dari kegemaran ibu saya dalam basah-membasahi hape.

Kita mulai dari aksi pertama, saat hape Kamu kebasahan, pastikan hape tersebut hanya kebasahan tidak terlalu fatal (misal: kecemplung di kali, kecemplung di kolam 5 meter, kecemplung di sumur). Selain itu, pastikan juga hape kamu masih bisa diambil. Hal ini perlu ditegaskan agar Anda tidak melakukan tindakan konyol seperti: ngambil hape yang jatoh ke jurang, ngambil hape yang jatuh ke tangan lintah darat (lintah darat kan tangan basah, berlendir, ih…). Dan pastikan juga, jika hape Anda nyebur, waktu hape itu tenggelam tidak terlalu lama (kisaran 5-10 menit, jangan harap bisa nyala kalau lebih)

Aksi berikutnya, jangan sekali-kali Anda berpikir untuk membawa hape Anda ke tukang hape sambil bilang ”Pak, hapenya baru nyelem, kira-kira laku berapa ya, Pak?” Plisss, jangan lakukan hal ini, khususnya bagi kaum muda (seperti saya) sebagai dalil untuk melakukan ritual pembelian hape baru (yang udah tua juga jangan, mentang-mentang duit sendiri).

Sebaiknya dalam aksi selanjutnya adalah melakukan pertolongan pertama, melepas baterai. Yaph, sumber utama kerusakan pada benda elektronik adalah konsleting. Hal ini terjadi karena terjadinya hubungan arus pendek dan seketika, yang menyebabkan peralatan listrik menjadi rusak (terlalu bertele-tele saya). Kenapa harus mencabut baterai? Karena baterai adalah sumber listrik utama pada hape.

Lalu, sesegera mungkin keringkan baterainya dengan dikepret-kepret (tahu kan? Bahasa Indonesia purba nih), lalu lap dengan menggunakan lap seadanya (karena kondisi yang tiba-tiba, jadi pake apa aja juga boleh, asal jangan tali kutang aja) sebaiknya menggunakan tisu. Mengapa harus dikeringkan? Ehm…ehm… begini Saudara-saudara sekalian, waktu saya belajar di SMA (kebetulan pas pelajarannya, saya lagi di kelas. Biasanya sih, cabut). Litium memiliki sifat sangat mudah mengalami oksidasi. Bila diberi air sepercik saja, maka dengan cepat Litium akan mengeluarkan api. Karena baterai hape bermaterialkan Litium (Lithium-Ion/Polymer), maka diwajibkan agar baterai selalu dalam kondisi kering (insting ipa saya kembali hadir). Jangan lupa, keringkan juga logam yang menghubungkan baterai dengan hape (itu loh, yang tembaga nongol 3 biji).

Selanjutnya, jual hape Anda di tukang hape (lagi-lagi semangat untuk beli hape baru). Oops, maksud saya bukan itu, maaf.

Selanjutnya, keringkan baterai, body hape di luar ruangan (sekalian jemur ikan asin, kerupuk, ama jemur terasi). Ingat, lakukan pada saat matahari sedang terik! Jangan salahkan saya sebagai pemberi info ini, kalau-kalau Anda menjemurnya saat mendung atau mungkin tengah hujan (kalo gitu mah, ganti hape aja mendingan dari tadi). Kalau misalnya mendung, jemur saja di bawah lampu belajar (tahu kan?) dengan bohlam 45 watt (biar cepet). Oiya, gada salahnya kalo sebelum melakukan penjemuran, dilakukan juga langkah pengeringan dengan hairdryer dan selanjutnya dijemur.

Tunggu sekitar 1 jam. Pastikan semuanya sudah kering (kalau belum, jemur lebih lama lagi, tapi jangan kelamaan juga). Sekarang, pasang lagi baterai hape pada hapenya biar hapenya bisa dinyalain lagi, kasian kan hapenya mati terus (apa sih?). Lalu, nyalakan kembali hape Anda.

Apakah hape Anda sudah bisa dinyalakan? Kalau tidak bisa, tidak ada salahnya kalau Anda kembali ke toko hape sambil menanyakan ”Mas, hape saya kemaren nyebur. Udah saya coba keringin, sih, tapi gak nyala-nyala. Kira-kira laku berapa, Mas?”. Saat menanyakan hal ini, jangan lupa bawa dus hape Anda dan bawa pula majalah hape yang representatif sebagai bahan pertimbangan pembelian hape baru. Selamat membeli hape baru :) .

Sekian info saya, semoga berguna (aduh, apaan nih? Kok ada kertas dilempar ke saya? Aduh, sepatu. Aduh, kulit pisang. Aduh, rambutan. Aduh…aduh…, ampun….!!!)

*tips ini berlaku juga pada PDA, dan Smartphone. Pada kasus kehujanan, tips ini juga layak dipertimbangkan, siapa tahu bisa beli hape baru :) .

Next Page »