puisi ngetik langsung


batas kata yang aku punya darimu

segenap jiwa ini bertepuk di sisi pundakmu

bila kau selami dengan sepenuh hati

bait-bait senja pasti kan menyelimuti

batas dunia aku dan kamu

refleksi sederhana dari malam dan bintang

air, udara, keheningan nyata

kelip malam kupatahkan

desah tawa kulantunkan

sedetik kan kujalani

bersamamu

rasa air kan membasahi

kerinduanmu

udara membahana

menyeruak di angkasa

kurasakan air membasahi

relung-relung

tanpa suara

bintang-bintang

kata-kata

bait-bait senja

Nelangsa merundung sukma
Hamparan gersang dari cerita
Berai menjadi derai air mata
Tangis yang terselubung hati
Menahan rasa yang meledak
Sebentuk penolakkan
Tak semestinya begini

Gemuruh menggetarkan langitku
Selubung-selubung amarah
“Dunia macam apa ini?”
“Menghardikku secara paksa”

-Meredam amarah-

Sepenggal kenyataan tak mungkin berganti
Tapi sepenggal keajaiban masih mungkin kunanti
Bila mungkin ada segores cerita yang sama
Dan keajaiban itu untukku
Untuk derai air mata yang terpaksa mengalir
Untuk cerita yang tak seharusnya

Seberapa hebat kau dapat menerima
Menatap ke dalam hati yang terdalam
Apa yang tersimpan?
Mampukah terbaca?
Sebaris nada yang tak mampu kau terka

Seberapa lama kau berharap?
Tak ada yang mampu kau ungkap
Mengenakan kabut
Menyelimuti kalut
Sehebat apa pun kau terpaut
Tak berarti aku terpagut
Olehmu…