puisi-puisi dari buku saya


Menemanimu di tiap musim yang berlalu
ada kalanya sedih dan sulit myang kita jalani
namun, kita juga alami tawa juga canda
perlahan kita adalah serpihan yang menyatu
bersama membentuk kepaduan
kita dalam saling memahami
kita dalam saling berbagi
(more…)

Secangkir hot lemon tea
dan sepiring bratwurst sausage,
garpu di kiri dan pisau di kanan,
kentang goreng pengganti nasi,
jagung, buncis, dan wortel
mengganti singkong, leunca dan selada air

“Ini hidup ala barat, Bung!
tak ada tangan yang kotor di sini
tak ada bakul nasi untuk empat porsi
tak ada lalapan yang dihidangkan.
Budayamu mati di sini.
Mati di tanganmu sendiri! ”

Tapi sayang, ada tembok yang terlalu tinggi
antara aku dan orang-orang di sini.
Kursi ini, kursi raja dan
meja ini, meja raja
berlaku baiklah di sini!
(atau, budayakanlah barat di sini!)

Kembali pada langit
bukan berarti mati
sepucuk surat dari langit
berpesan untuk hidupku

“masa lalu telah selesai
kini masamu yang baru
tidakkah kau lihat?
sepucuk surat ini untukmu
jagalah, dan mengertilah isinya”

-masih dengan gaya yang pongah-

Tutur apa yang mencoba
membuka topengku untuk melihat isiku?
Ini aku dan topeng
apa urusanmu?

Aku masih egois
tapi aku simpan petuahmu
kelak mungkin pintuku terbuka
Dan aku akan mengerti
ini tentang kembali pada langit
bukan kebodohan pada topeng
tapi melihat diri dalam ketelanjangannya
tanpa malu,
dan akulah penantang dunia

Sukma mendalam tertusuk
Aroma lembut merebak
Terasing di tengah rasa yang menyeruak
Berpura-pura pongah
Sesaat melirik
Mengkhawatirkan pesona

-selubung dan selimut-

Aku bersembunyi di balik cadar
Menepis gundah
Sesaat melirik
Masih dalam pesonanya
Tanganku ingin menggapainya
Menyentuh ujung hatinya
untuk rayuan
untuk gombalan
Hingga pipinya memerah
Dan aku mengecupnya

malam terkesima
malam terdiam
malam tertawa lepas

Biarlah ini ceritaku
Sukma mendalam tertusuk
Dalam tarian pena
aku menulis namanya
Belum mampu berkata
Masih berbahasa bisu

malam terkesima
malam terdiam
malam tertawa lepas

Aku bermimpi
Bermain imaji

Kaulah kisah yang sengaja kutunda
Karna kaulah kisah yang ingin kurangkai indahnya
Walau tak pelak aku menderita
Kau pula yang membuatku merasa bermakna

Puisiku yang akan menjagamu
Rasakan perasaan tulus untukmu
Agar kau ingat aku di malam hari
Meskipun pagi belum ada hadirku di sisi

Kau masih di sana jalani kisah
Nikmatilah cinta yang mulai kau rasa
Agar kau mengerti inilah yang kurasa
Perasaan yang ingin melindungi
Perasaan tanpa rasa merugi
Perasaan yang hadirkan cemburu
Perasaan saatku menatap matamu

Sisakan aku ruang dihatimu
Untuk kisahku yang belum terwujud
Bersamamu inginkan rasakan indahnya
Bersamamu inginkan hadirkan romansa
Bait puitis yang terakhir ku tulis
Di sana aku menaruh akhir kisah kita
Apakah engkau sanggup menerimanya
Menjadi kekasihku di waktu yang tersisa

- kini aku mencoba menulisnya -

Sebaris kisah yang mungkin bisa mengawalinya
Agar tak ada lagi yang membuatmu bertanya-tanya
Kaulah penantian panjang yang lama aku nantikan
Penantian atas ribuan puisi yang aku torehkan
Penantian atas ribuan waktu yang lelah ku habiskan

Tak akan berubah
Memori yang pernah singgah
Kau beri seulas cerita
Goresan yang selalu kubaca

Tak ada yang memberiku kekuatan
Kau pergi dan tak lagi kutemukan
Kau hilang, apa kau pikir aku tenang?
Lara hati tak mampu berkata lagi
Lirih bisik hati ingin kau temani
Parau isak tangis ingin kau di sini

Temui aku kapan kau mau
Kalau tak ada lagi cinta yang menemanimu
Aku yang setia seperti pertama bertemu
Tak ubahnya kau di mataku
Tak ubahnya dalam pikiranku
Tak ubahnya harap di hatiku

Hidupku telah biasa
Meratapi indahnya kata
Tanpa kau percaya
Tanpa kau bicara

Kau kuberikan makna
Tertulis di bait senja
Hanya tertawa
Dalam pikiranmu

Sebentuk lara
Kau lepaskan asa
Menggelak tawa
Isak tangisku hampa

Tanyakan pada ribuan bintang
Sepiku tlah pergi dan semakin sepi
Suara yang tersisa hanya riakan mimpi
Suara yang tersisa tinggal desiran pasi

Kemana hati?
Apa kau pergi?
Sampaikan maafku
Pada rintihan tadi
Yang menjerembapkan diri
Pada ruang yang sunyi