puisi-puisi dari hape saya


Saat yang tepat kala kita berdua,
saat yang tepat untuk angin tertawa,
menyapa kata yang terpenjara
menyapa hati yang tak terbaca

Tiba saatnya yang itu,
yang dulu kita tak tahu
entah malam yang jenuh
atau cerita yang melucu
atau banyak hal yang merancu
……lain lagi,
…………dan lain lagi

Aku berusaha berpegang pada kencana.
Namun kau tetap menarikku kembali
untuk tetap berlabuh di tepi tawa,
menyandarkan hati untuk selalu bersemi.
Pulang ke pangkuan pantaimu
pulang menyisir tepian lautmu

Jingga yang teramat rendah hati
dalam sore tanpa awan kelam,
aku punya segenggam memori di sini
untuk merekam kenangan sebelum malam
sebelum matahari berpamit pulang
dalam kemilau jutaan kerancuan
aku tetap memilih tetap di sini

………………bersamamu…
……..menembus batas khayalan…
dan meneropong ilusi di tiap terkaan

Angin menebas angkasa
Kelakuannya seperti anak kecil
Tak berkaca pada kata
Tak bertuan pada frasa

Sejuk kehidupan bersamamu
Kau keistimewaan cuma-cuma
Yang mengirim pesan-pesan damai
Yang membawa kejujuran pada bumi

— alunan ceria berlompatan—

Kesempatanku untuk bercerita
Tentang cara merayu wanita
Pada angin tak bermuka
Biar pesannya sampai segera
Menggelitik indera manusia
Supaya mungkin ada yang tergoda
Pada bualan besarku
Pada hikayat pangeran tukang tipu

Maka aku tunjuk satu darimu

manakala simpai ini tersingkap

ada hulu dari surga

aku pilih satu, tapi

yang mana?

aku ingin yang murni

tanpa simbahan lekang waktu

dari suara ataupun rupa

 

Tunjukkan aku satu dara

dari segelintir darimu

aku mencari yang mampu aku singgahi

manakala waktuku benar-benar terganti

tak kenal lagi kesemuan

 

Iya, iya, aku mengerti

tadi siang terlalu suram

tapi sejenak letakan tanganmu di pundakku

mungkin kau bingung membaca pikiranku

sudahlah, aku menginginkan kau yang murni

tanpa singgahan yang lekang waktu

Pada malam yang pekat
Pada embun yang dingin
Pada bunga yang kuncup
Semua yang bisa berkata dengan kejujuran

Apa kalian bias melihat rona indah itu?
-mata berbinar dengan kulit merona-
Apa itu sebentuk keindahan?
Bolehkah aku menyentuhnya?
Dimana tiap lekuknya
Itu mimpi
Itu mabuk
Itu nanar

Lalu sayup renyah terdengar
“Aku cinta, peluk aku,
dekap aku.” Lalu aku,
manusia yang melihat malam
Aku tersenyum dan berkata
“Kau itu topeng, kau itu bohong,
kau bukan cinta!”

-hati tergelitik-
Bolehkah aku tersenyum kembali untukmu?
Biar aku bisa berkata
“Aku bahagia karena melihatmu,
terimakasih atas pandangan itu,
dan maaf aku tlah menikmati parasmu”

-lalu semua berjalan-
Kau melenggang lincah
Harum fragrance segar
Mata berkedip sayu
Tiap langkah itu
Aku tahu kau sempurna
Tapi tiap langkah itu
Aku tahu kau bukan yang ku pinta

Padahal aku mengharapkanmu
Seperti harapnya ksatria yang menunggu
Padahal aku menaruh hatiku
Seperti aku memberi separuh hidupku

-tapi periku tak membuatmu mengerti,
kau tetap menikmati untuk setiap sepiku-

Dan diam tanpa gemuruh
Kau membuatku dalam riuh
Suara-suara yang sesakkan aku
Terjerambap dalam alunan pilu

Itulah wajahmu yang kusentuh kala itu
Itulah kelembutanmu di ujung jariku
Tepian pipi itu tergores manis
Polesan putih itu terpapar sempurna

Aku mencuri rautmu
Aku mencuri indahmu
Biar aku punya cerita pada malamku
Ini aku merampas bayangmu

”Apa kau bisa jelaskan?,
dari mana asal wajahmu?,
apa kau terlahir dari bidadari?,
darimana datangnya goresan halus itu?,
apa kau tercipta dari siluet pagi?”

Seketika pertanyaanku pergi
Tak ada yang dijawab

Kau memang indah
Untung malam tadi aku merampas bayangmu
Hingga pagi ini aku tdak sendiri
Aku masih ingat lekukmu
Jariku masih membahasakan wajahmu

Inilah rampasanku
Dari raut indah wajahmu
Malam itu

Dan kau memulai kisah

Saat matamu terbuka

Mendelik malu

Menatap ke arahku

Dan kau bawa sebuah rasa

Yang kuharap bukanlah dusta

Karena tlah cukup aku merasa

Sakit untuk rasa yang ku puja

Selintas kau tampil merona

Mengunci akal sehat dangan indahnya

Aku percaya kini kau berkuasa

Kau berdiri dan siap menebas angkasa

Sisakan aku sedikit waktu

Mencoba berpura memilikimu

Sejenak semu untuk menipuku

Agar mimpi malamku mampu menghadirkanmu

Kala rindu

Untuk melihatmu

Kala rindu

Untuk mendengarmu

Kala rindu

Setidaknya ada ruang kecil

Yang penuh imaji tentang kamu

Sebuah nama untuk satu kata
Sebuah arti untuk satu janji
Ini untuk yang tak biasa
Untuk yang mampu tertawa dalam sedihnya

Hatiku kau beri makna
Semua tanpa kutahu dimana bermula
Enggkau pun tak tahu tlah menanamnya
Yang aku rasa yang aku butuh hanya kau semata

Bercahaya berwarna jingga
Itu senja yang biasa ku cerna
Kini aku meminta kau berdiri
Jadilah siluetku penenang hati

Tersenyumlah bila kau menatap aku
Berikan nuansa agar ku tak bisu
Aku kan taklukan segala kelamku
Jangan kau beranjak, aku kan bagi kisahku

Aku tampak sebagai manusia biasa
Merefleksikan hidup di mata orang lain
Namun aku tetap ada arti tersendiri
Aku punya nilai yang kutetapkan sendiri
Biar saja orang menganggap ini menyimpang
Aku hanya ingin menunjukkan aku bukan seperti mereka
Aku punya hidup yang butuh kehidupan
Aku punya kehidupan untuk pencapaian kesempurnaan yang berbeda

Aku mencari jati diri di keramaian
Mencari arti turunku ke bumi
Mengisi kekosongan ruang di jiwaku
Makna demi makna kutorehkan
Semoga hidupku sanggup memberi kesan

Waktuku tak panjang
Banyak harapan kugantungkan
Tak ada waktu menjadi seperti mereka
Biarlah aku menjadi apa adanya diriku

This is the real me whatever you told

Jangan samakan langkahku
Jangan tiru iramaku
Ayunkan kaki menebas impian
Bersama kita menjunjung angan
Bersama kita dalam nada yang berbeda

This is the real me

Tersadar di tengah kejengahanku
Memainkan nada tinggi rendah
Rasa itu kata
Kata itu tiada

Pesona itu biasa
Pencuri ulung
Mengelabui nilai
Mata tak berkata
Toh tipuan itu tak mengenal batas

Kau hanya merasa yang biasa
Memang ini biasa
Matahari bersinar
Memeluk kerinduan
Bukankah itu biasa?
Sama halnya kau berkata
Toh tak ada yang dibuat-buat
Hanya saja aku
Meretas alam rasionalku
Merusak cadar-cadar yang pemalu
Kini kelabu darimu
Itu pesona yang biasa

Next Page »