Saat yang tepat kala kita berdua,
saat yang tepat untuk angin tertawa,
menyapa kata yang terpenjara
menyapa hati yang tak terbaca
Tiba saatnya yang itu,
yang dulu kita tak tahu
entah malam yang jenuh
atau cerita yang melucu
atau banyak hal yang merancu
……lain lagi,
…………dan lain lagi
Aku berusaha berpegang pada kencana.
Namun kau tetap menarikku kembali
untuk tetap berlabuh di tepi tawa,
menyandarkan hati untuk selalu bersemi.
Pulang ke pangkuan pantaimu
pulang menyisir tepian lautmu
Jingga yang teramat rendah hati
dalam sore tanpa awan kelam,
aku punya segenggam memori di sini
untuk merekam kenangan sebelum malam
sebelum matahari berpamit pulang
dalam kemilau jutaan kerancuan
aku tetap memilih tetap di sini
………………bersamamu…
……..menembus batas khayalan…
dan meneropong ilusi di tiap terkaan