<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>fm mahdi</title>
	<atom:link href="http://qavad.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qavad.wordpress.com</link>
	<description>Share, Care, and Rare</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Oct 2011 03:27:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qavad.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>fm mahdi</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qavad.wordpress.com/osd.xml" title="fm mahdi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://qavad.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Energi yang Tidur</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2011/05/04/energi-yang-tidur/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2011/05/04/energi-yang-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 16:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Energi yang Tidur Sampai saat ini, minyak masih merupakan primadona sumber energy di bumi ini. Energi ini sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan industry dan transportasi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk 237,5 juta jiwa, kedua sektor ini memegang peran yang sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan kata lain, minyak memegang peran yang sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=230&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Energi yang Tidur</strong></p>
<p>Sampai saat ini, minyak masih merupakan primadona sumber energy di bumi ini. Energi ini sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan industry dan transportasi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk 237,5 juta jiwa, kedua sektor ini memegang peran yang sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan kata lain, minyak memegang peran yang sangat strategis dalam hal energy dan juga kesejahteraan.</p>
<p>Potensi minyak itu sendiri di Indonesia cukup besar. Menurut data badan pusat statistik, Indonesia memiliki 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Suatu potensi minyak yang luar biasa, dan dapat dikategorikan cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Salah satu ladang minyak Indonesia yang sangat potensial adalah Blok Cepu. Secara bisnis potensi minyak Blok Cepu sangat menggiurkan. Setiap harinya, ladang minyak Blok Cepu ini bisa menghasilkan sekitar sekitar 200.000 barel perhari. Jumlah itu dengan asumsi harga minyak US$60 perbarel, maka dalam sebulan bisa menghasilkan dana Rp 3,6 triliun atau Rp 43, 2 trilun setahun.</p>
<p>Dengan potensi yang demikian luar biasa tersebut seharusnya Indonesia mampu tampil sebagai negara yang makmur. Seperti halnya Brunei, sebuah negara yang tidak begitu besar namun makmur dengan GDP sebesar $ 52.000 dengan mengandalkan minyak bumi sebagai penghasilan utamanya. Namun kenyataannya adalah suatu ironi. Indonesia tidak sebaik Brunei dalam memanfaatkan potensi minyak buminya. Dengan potensi minyak bumi yang lebih besar dari Brunei, Indonesia hanya mencapai angka GDP sebesar $ 4.000. Tiga belas kali lebih kecil dari GDP Brunei.</p>
<p><strong>Mati di Lumbung Padi</strong></p>
<p>Pepatah klasik pernah mengungkapkan pribahasa “Ayam Mati Kelaparan di Lumbung Padi.” Hal ini merupakan ironi mengingat matinya ayam tersebut di tempat yang kaya akan sumber makanan. Keadaan ini bisa dikatakan serupa dengan keadaan Indonesia saat ini, “Kemiskinan di Lautan Minyak Bumi.”</p>
<p>Minyak bumi yang membuat negara seperti Brunei menjadi makmur ternyata tidak demikian dengan Indonesia. Negara ini justru terpuruk dengan potensi minyak bumi yang dimilikinya. Hanya beberapa orang yang mengalami kemakmuran dan sebagian besar hanya bisa meratapi nasibnya. Minyak bumi pada akhirnya menciptakan jurang kemakmuran yang sangat timpang.</p>
<p>Melihat kenyataan tersebut, muncullah pertanyaan sederhana “Mengapa ini yang terjadi?” sebuah negara dengan potensi minyak bumi yang besar seharusnya menjadi negara yang mandiri. Minyak bumi yang selalu menjadi primadona seharusnya mampu menggerakan roda perekonomian negara. Dalam APBN, pemasukan negara tinggal mengandalakan pajak, padahal dahulu pemasukan APBN juga diwarnai oleh pemasukan sektor migas. Kemana migas kita selama ini? Dikemanakan potensi-potensi yang kita miliki tersebut?</p>
<p>Sebagai perusahaan negara atau BUMN, Pertamina menguasai penuh pengelolaan minyak bumi. Namun, sangat disayangkan, berdasarkan data ESDM 2009, Pertamina hanya memproduksi 13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta khususnya asing seperti Chevron (41%), Total E&amp;P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Jika diperhatikan, Chevron ternyata lebih menguasai sektor perminyakan di Indonesia daripada pertamina itu sendiri.</p>
<p>Melihat kenyataan tersebut, terjawab sudah kemana larinya potensi minyak bumi yang kaya itu selama ini. Pertamina yang menjadi satu-satunya BUMN yang mengelola minyak bumi ternyata tidak berdaya menghadapi Chevron. Tak heranlah maka potensi-potensi minyak bumi yang kaya itu beterbangan ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat, tempat Chevron berdiri.</p>
<p><strong>Memanfaatkan secara mandiri</strong></p>
<p>Potensi minyak bumi yang besar tidak akan berpengaruh apa-apa jika pemanfaatan potensi tersebut tidak dimanfaatkan oleh diri sendiri. Dengan teknologi yang tinggi dan dana yang besar, pihak asing merasa lebih mampu untuk mengelola potensi-potensi tersebut. Sedangkan Indonesia, dengan pola pikir jangka pendek merasa tidak masalah dengan pengelolaan minyak bumi oleh asing. Ketika itu tentu belum terpikir dampaknya akan separah ini.</p>
<p>Kenaikan harga minyak bumi dunia, yang selanjutnya meningkatkan tariff transportasi, harga bahan pangan, dan akhirnya memperkecil daya beli masyarakat seharusnya membuat pemerintah menyadari betapa pentingnya pengelolaan minyak bumi secara mandiri. Perlu adanya inovasi pengembangan teknologi yang dimiliki oleh Pertamina.</p>
<p>Untuk permasalahan pendanaan, pemerintah bisa memanfaatkan instrument surat utang negara, baik dalam bentuk ORI (obligasi) maupun SR (sukuk/ obligasi syariah) yang diterbitkan khusus untuk semua kalangan orang Indonesia. Dengan menggunakan konsep yang sama dengan koperasi, yaitu dari-oleh-dan-untuk aggota, surat utang negara dapat menjadi produk pendanaan yang diminati oleh masyarakat. Dengan pendapatan hasil yang jelas di periode tertentu kepada pembeli surat utang, masyarakat akan merasakan hal ini menjadi insentif yang menggiurkan. Sesuai dengan salah satu prinsip ekonomi, orang akan tanggap terhadap insentif, begitu pula yang harus dilakukan sekarang oleh negara dalam hal pendanaan.</p>
<p>Namun, surat utang tersebut tidak akan menjamin bahwa sebagian besar dana masyarakat dapat terserap sempurna. Ada kendala lain yang dimiliki negara ini dalam hal pengelolaan keuangan, yaitu adanya praktik korupsi yang sulit dihindari. Dengan demikian, para calon pembeli obligasi akan memiliki keraguan tentang kejelasan penyaluran uang mereka. Jika ternyata dikorupsi, tentu para investor menjadi enggan untuk membeli surat utang tersebut. Namun, jika kepercayaan para investor sudah tinggi, jenis pendanaan ini tentu akan sangat dianjurkan.</p>
<p><strong>Jangan Lupa dengan Energi Alternatif</strong></p>
<p>Sebagai sumber daya tidak terbarukan, seberapa besar pun potensi minyak yang dimilliki Indonesia maka suatu saat akan mengalami kehabisan. Isu tentang akan habisnya cadangan minyak dunia tersebut membuat para ilmuwan berlomba-lomba untuk mencari sumber daya terbarukan yang dapat menjadi energy pengganti bagi minyak bumi.</p>
<p>Indonesia sempat menggembar-gemborkan bahwa telah ditemukan sumber energy terbarukan yanhg berasal dari pengolahan biji tanaman jarak. Minyak dari biji tanaman tersebut rupannya mampu dijadikan alternatif pengganti bagi kendaraan bermesin diesel. Namun demikian, penemuan energy terbarukan ini kurang menjadi perhatian pemerintah. Terbukti, masih kurang SPBU yang menyediakan pengisian bahan bakar berbasis tanaman jarak tersebut atau dikenal juga dengan istilah biodiesel. Padahal, penemuan ini jika mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah, Indonesia bisa menetapkan paten atas bahan bakar tersebut dan menjadikan bahan bakar tersebut sebagai bvahan bakar utama negara ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=230&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2011/05/04/energi-yang-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam Permohonan</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2011/04/28/malam-permohonan/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2011/04/28/malam-permohonan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 00:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Free Assosiation Writting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Kesendirian ini mengantarkan aku pada jejak itu Melalui celah-celah jemari yang kumainkan Aku menunjuk-nunjuk awan Mereka berarak, menari, melukis Ada kenangan yang ingin kusampaikan Detik ini akan mempertemukan aku dengan malam Sebuah kerinduan bagi sang penyanjung picisan Kini tempatnya menjadi sangat jauh Meski dalam satu sisi ada suatu keeratan Aku memandang dalam goresan yang masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=227&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesendirian ini mengantarkan aku pada jejak itu</p>
<p>Melalui celah-celah jemari yang kumainkan</p>
<p>Aku menunjuk-nunjuk awan</p>
<p>Mereka berarak, menari, melukis</p>
<p>Ada kenangan yang ingin kusampaikan</p>
<p>Detik ini akan mempertemukan aku dengan malam</p>
<p>Sebuah kerinduan bagi sang penyanjung picisan</p>
<p>Kini tempatnya menjadi sangat jauh</p>
<p>Meski dalam satu sisi ada suatu keeratan</p>
<p>Aku memandang dalam goresan yang masih basah</p>
<p>Tercium aromna yang tak kunjung membuatku hidup</p>
<p>Apakah aku mati atau aku hidup</p>
<p>Kegamangan mengurungku dalam ruang dan waktu</p>
<p>Kini aku meyakini doaku pada Tuhan</p>
<p>Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhannya</p>
<p>Aku butuh satu malam dengan nafas yang panjang</p>
<p>Sebuah nafas yang larut dalam mimpi yang terbentang</p>
<p>Aku butuh sesuatu</p>
<p>Mungkin warna, nafas, dan hidup</p>
<p>Tuhanku, sungguh aku lemah</p>
<p>Sungguh aku ingin hidup</p>
<p>Sungguh aku butuh malam yang panjang</p>
<p>Bandung, 28 April 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=227&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2011/04/28/malam-permohonan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Zakat dan Riba</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/12/23/antara-zakat-dan-riba/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/12/23/antara-zakat-dan-riba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 02:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[time value of money]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah makalah kontoversial karena mengonstruksi 3 pemikiran, Afzalur Rahman dengan “Doktrin Ekonomi Islam”-nya, Chandra Natadipurba dengan modul kajiannya, Yususf Qardhawi dengan “Hukum Zakat”-nya, dan Fadilla dengan idenya sendiri menggabungkan karya-karya mereka. Tak lupa, dengan dituntun oleh tuntunan suci, lembaran mulia, al-Quran al-Karim. Bismillahirrahmanirrahim, selamat membaca… Semoga Bersemangat ^_^ Definisi 1.1.    Riba Kitab suci al-Quran telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=223&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah makalah kontoversial karena mengonstruksi 3 pemikiran, Afzalur Rahman dengan “Doktrin Ekonomi Islam”-nya, Chandra Natadipurba dengan modul kajiannya, Yususf Qardhawi dengan “Hukum Zakat”-nya, dan Fadilla dengan idenya sendiri menggabungkan karya-karya mereka. Tak lupa, dengan dituntun oleh tuntunan suci, lembaran mulia, al-Quran al-Karim.</p>
<p><span id="more-223"></span>Bismillahirrahmanirrahim, selamat membaca… Semoga Bersemangat ^_^</p>
<ol>
<li>Definisi</li>
</ol>
<p>1.1.    Riba</p>
<p>Kitab suci al-Quran telah menggunakan kata riba untuk bunga. Dari segi makna, kata riba berarti kelebihan atau penambahan atau surplus. Dari segi ekonomi, riba memiliki artian yang lebih spesifik, yaitu surplus pendapatan yang diterima pemberi pinjaman dari peminjam dari sejumlah pinjaman pokok sebagai imbalan karena menangguhkan dari sebagian modalnya selama periode waktu tertentu.</p>
<p>Di dalam Islam, riba secara khusus merujuk pada kelebihan yang diminta dengan cara-cara tertentu. Dalam membicarakan riba, Ibn Hajar ‘Askalani mengatakan bahwa inti riba adalah kelebihan baik itu berupa kelebihan dalam bentuk barang maupun uang.</p>
<p>Menurut Allama Mahmud al-Hasan Taunki, riba berarti kelebihan atau pertambahan; dan jika dalam suatu kontrak penukaran barang (pertukaran barang dan barang), lebih dari satu barang yang diminta sebagai penukaran satu barang yang sama, yangf demikian itu disebut riba.</p>
<p>1.2.    Zakat</p>
<p>Kata zakat berarti menumbuhkan, memurnikan (menyucikan), memperbaiki, yang berarti pembersihan diri yang didapatkan setelah pelaksanaan kewajiban membayar zakat.</p>
<p>Seseorang dikatakan berhati suci dan mulia apabila ia tidak kikir dan tidak terlalu mencintai hartanya sendiri. Sifat harta yang pastinya disenangi tidak jarang membuat pemiliknya menjadi kikir. Untuk itu instrument zakat juga berguna untuk melatih seseorang agar tidak kikir dengan mendermakan hartanya sebagai ganti atas belanja konsumtifnya.</p>
<ol>
<li>Jenis-jenis</li>
</ol>
<p>2.1.    Riba</p>
<p>2.1.1. Riba Fadhl</p>
<p>Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dengan barang yang dipertukarkan., sementara barang yang dipertukarkan bersifat ribawi (emas, perak, dan kebutuhan pokok penduduk sekitar)</p>
<p>2.1.2. Riba Nasi’ah</p>
<p>Penangguhan dari waktu penerimaan atau penyerahan pertukaran antarbarang yang bersifat ribawi.</p>
<p>2.1.3. Riba Qardh</p>
<p>Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan di awal peminjaman terhadap yang berutang, yang akan dbayar bersamaan dengan pokoknya di akhir masa perjanian pelunasan.</p>
<p>2.1.4. Riba Jahiliah</p>
<p>Penambahan lebih bayar atas pinjaman yang telah jatuh tempo sebagai kompensasi penangguhan waktu pelunasan selama periode tertentu yang telah disepakati. Apabila kembali engalami gagal bayar, maka penambahan lebih bayara bisa ditingkatkan lagi persentasenya.</p>
<p>2.2.    Zakat</p>
<p>2.2.1. Zakat Fitrah</p>
<p>Zakat yang dikeluarkan rutin setiap akhir bulan puasa. Jenis zakatnya disesuaikan dengan bahan pokok yang berlaku di wilayah tersebut. Khusus di Indonesia, zakat fitrah yang dikeluarkan berupa beras.</p>
<p>2.2.2. Zakat Maal</p>
<p>Zakat yang ditetapkan sesuai dengan kekayaan yang dimiliki oleh seseorang setelah mencapai nisab, atau batas minimal wajib zakat. Kisaran nisab juga beragam, yaitu antara 85 sampai 100 gram emas. Namun, umumnya besaran yang digunakan di Indonesia adalah 85 gram emas.</p>
<ol>
<li>Sisi Pertumbuhan</li>
</ol>
<p>3.1.    Riba</p>
<p>“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah….” (ar-Rum: 39)</p>
<p>Dari ayat di atas, dengan gamblang telah Allah gambarkan bagaimana pertumbuhan yag terjadi ketika kita mengambil lebih dari suatu pinjaman (bunga).</p>
<p>Pertumbuhan yangt terjadi ketika kita melakukan transaksi yang bersifat ribawi hanyalah berlaku pada manusia saja. Kebaikan dan pahala di sisi Allah tidak akan bertambah sedikit pun dalam pengambilan riba tersebut.</p>
<p>3.2.    Zakat</p>
<p>”…Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (ar-Rum: 39)</p>
<p>Pertumbuhan yang terjadi dari zakat memang tidak terlihat secara nyata. Malah sebaliknya, kita hanya melihat harta kita yang berkurang ketika melakukan zakat. Namun, ternyata Allah telah menjanjikan bahwa zakat yang kita keluarkan akan mampu melipatgandakan pahala yang dimiliki.</p>
<p>Meskipun kebenaran ini sulit dibuktikan secara ilmiah, namun kita dapat melihatnya dalam fenomena yang terjadi di kalangan orang yang rajin berzakat. Kebanyakan dari mereka tidak lagi bersifat materialis, hidup sederhana, dan bersahaja. Mereka tidak merasa kekurangan sedikitpun dari apa yang telah Allah berikan kepadanya, sehingga hidupnya tidak lagi menuhankan harta. Hal ini yang membuatnya mampu meredam nafsu duinianya.</p>
<ol>
<li>Dampak-Dampak</li>
</ol>
<p>4.1.    Riba</p>
<p>Jatuhnya nilai mata uang sekarang, khususnya di Barat dapat menimbulkan kesan bahwa kreditor tidak menerima jumlah yang sama nilainya dengan uang yang dipinjamkan. Hal ini dikarenakan uang pinjaman diterima kembali setelah suatu jangka waktu tertentu. Dan bagi mereka, hal ini membutuhkan suatu bentuk kompensasi dalam bentuk bunga atau riba. Oleh karena itu kreditor menarik suatu imbalan terhadap kerugian nilai yang ia dapatkan dari uang yang dipinjamkannya. Hal ini yang kemudian mendasari konsep <em>time value of money</em>.</p>
<p>Kajian-kajian yang sering diadakan mengenai permasalahan inflasi dan kenaikan harga yang luar biasa menunjukkan bahwa masalah ini timbul, sebagian karena suatu pengaruh dari bunga atau riba dalam sistem moneter dan sebagian lain karena adanya bunga manipulasi sistem moneter dengan unsur-unsur tertentu di dalam perekonomian untuk disesuaikan dengan kepentingan pribadi mereka.</p>
<p>Selain itu, dapat ditambahkan juga bahwa sistem bunga menyebabkan orang menjadi serakah. Mereka meminjamkan uang atas dasar pengembalian yang lebih besar dari pokok. Dan hal ini diperparah lagi dengan sistem telat bayar, di mana jika kita telat membayar pinjaman pada saat jatuh tempo, maka bunga atas pinjaman akan meningkat.</p>
<p>4.2.    Zakat</p>
<p>Sesungguhnya, zakat itu bersifat menyucikan jiwa manusia, seperti yang tertulis pada at-Taubah: 103. Menyucikan di sini dalam artian penyucian dari sifat mementingkan diri sendiri, kikir, dan cinta akan harta.</p>
<p>Zakat bukan sekadar sumbangan, juga merupakan suatu langkah yang penting demi kemajuan umat. Zakat yang diberikan dari si kaya kepada yang miskin dapat meningkatkan kemampuan yang miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini akan membuat yang miskin tidak bertindak kriminal untuk mendapatkan harta si kaya, dengan demikian, zakat juga membantu menjaga keamanan dan keutuhan umat.</p>
<ol>
<li>Kesimpulan</li>
</ol>
<p>Zakat dan Riba memiliki makna yang sama jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu pertumbuhan. Namun, pertumbuhan pada zakat dan bunga atau riba memiliki konotasi yang sangat berlainan. Zakat menitikberatkan pertumbuhan secara keimanan, sementara bunga atau riba mnitikberatkan pertumbuhannya pada materi. Hal ini yang akhirnya dijadikan perbedaan mendasar untuk melihat pertumbuhan yang terjadi dari harta ketika kita melakukan transaksi zakat dan bertansaksi yang mengandung ruba tau bunga.</p>
<p>Pertumbuhan pada sisi materi yang terjadi dalam sistem bunga ternyata masih menggiurkan bagi para praktisi ekonomi di sektor keuangan. Alih-alih pelegalan riba, konsep <em>time value of money</em> pun diciptakan, di mana unsure bunga atau riba turut ambil andil sebagai variable yang melekat di dalamnya.</p>
<p>Namun, ternyata Allah telah melarang praktik bunga ini dengan keras, sebagaimana yang tercantum dalam ayat berikut:</p>
<p>“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 279)</p>
<p>Allah telah menegaskan bahwa pertumbuhan dalam sistem bunga atau riba ini hanya berlaku di sisi manusia yang menjalankannya saja. Pertumbuhan ini tidak berlaku di sisi Allah, malah hanya menambah kemurkaan-Nya.</p>
<p>Namun, Allah menjadikan instrumen lain, yang sama-sama bisa menyebabkan pertumbuhan yang menguntungkan bagi manusia. Allah telah menjanjikan sebuah pahala yang berlipat ganda dengan zakat yang telah dikeluarkan. Hanya saja, bagi mereka yang belum yakin secara penuh, akan mengalami keraguan dalam mengeluarkan zakat.</p>
<p>Namun, apakah Allah pernah mengingkari janji-Nya? Mengapa masih ada keraguan dengan ketetapan-Nya?</p>
<p>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan<strong><sup> </sup></strong>dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-Taubah: 103)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=223&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/12/23/antara-zakat-dan-riba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Kita</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/10/31/cerita-kita/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/10/31/cerita-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 04:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Free Assosiation Writting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Andai kau tak pernah tahu Mungkin takkan jadi begini Ini bukan pengalaman bercinta Ini pengalaman bercerita Merangkai rasa dalam kata &#160; Bukan tulisan ini yang ingin kusampaikan padamu Bukan pula cinta yang datangnya tanpa diduga Tapi cerita yang merangkai kita Cerita yang mengajak dewasa &#160; Selamat pagi atau selamat tidur Menggerutu, marah, atau tawa Itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=220&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai kau tak pernah tahu</p>
<p>Mungkin takkan jadi begini</p>
<p>Ini bukan pengalaman bercinta</p>
<p>Ini pengalaman bercerita</p>
<p>Merangkai rasa dalam kata</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukan tulisan ini yang ingin kusampaikan padamu</p>
<p>Bukan pula cinta yang datangnya tanpa diduga</p>
<p>Tapi cerita yang merangkai kita</p>
<p>Cerita yang mengajak dewasa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat pagi atau selamat tidur</p>
<p>Menggerutu, marah, atau tawa</p>
<p>Itu yang membingkai cerita kita</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Senyum, salam, atau sapa</p>
<p>Hujan, bintang, atau malam</p>
<p>Semoga cerita ini tetap mengalir indah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=220&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/10/31/cerita-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Telah Bermuara</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/10/10/yang-telah-bermuara/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/10/10/yang-telah-bermuara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 02:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi ngetik langsung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[kuhabiskan lilin &#8216;tuk terangi kutuliskan bahasa yang indah tentang cinta yang membungkam kata dan terlanjur tiba di muara &#160; yang tersisa sehabis malam ini kurindukan satu kisahnya kusadari tak ada yang kumengerti tentang waktu di senja yang lalu &#160; tunjukkan aku kebaikan hatimu bunuh aku dalam dekapanmu perlahan hingga kau pun mengerti jalan ini bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=217&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>kuhabiskan lilin &#8216;tuk  terangi</p>
<p>kutuliskan bahasa yang indah</p>
<p>tentang cinta yang  membungkam kata</p>
<p>dan terlanjur tiba di muara</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>yang  tersisa sehabis malam ini</p>
<p>kurindukan satu kisahnya</p>
<p>kusadari  tak ada yang kumengerti</p>
<p>tentang waktu di senja yang lalu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tunjukkan  aku kebaikan hatimu</p>
<p>bunuh aku dalam dekapanmu</p>
<p>perlahan  hingga kau pun mengerti</p>
<p>jalan ini bukan pilhanku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dekapan  bulan akan tetap hangat</p>
<p>sehangat rahasia cinta yang tersimpan</p>
<p>dapatkah  aku untuk tetap begini?</p>
<p>bertahan dengan napas yang sesak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>atau</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku  bertahan dalam tangis sepanjang malam</p>
<p>menunggu takdir</p>
<p>menunggu  mati</p>
<p>menunggu pembalasan</p>
<p>menunggu sisa hati terbakar oleh  dosa</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=217&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/10/10/yang-telah-bermuara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku &#8220;Female Brain&#8221;</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/10/02/resensi-buku-female-brain/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/10/02/resensi-buku-female-brain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 22:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Female Brain]]></category>
		<category><![CDATA[Otak Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Resensi Buku Judul Buku: Female Brain Penulis: Louann Brizendine Penerbit: Ufuk Press Tebal Buku: 441 halaman Jenis cover: softcover Pembahasan Buku: Jika hanya dilihat dari judulnya saja, Female Brain, Anda mungkin akan berpikir bahwa buku ini telah dirancang dan dikhususkan untuk kalangan perempuan saja. Namun, coba Anda lihat dulu bagaimana buku ini dibungkus dengan kemasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=210&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Resensi Buku</p>
<p>Judul Buku: Female Brain</p>
<p>Penulis: Louann Brizendine</p>
<p>Penerbit: Ufuk Press</p>
<p>Tebal Buku: 441 halaman</p>
<p>Jenis cover: softcover</p>
<p><img src="http://qavad.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="More...">Pembahasan Buku:</p>
<p>Jika hanya dilihat dari judulnya saja, <em>Female Brain</em>, Anda mungkin akan berpikir bahwa buku ini telah dirancang dan dikhususkan untuk kalangan perempuan saja. Namun, coba Anda lihat dulu bagaimana buku ini dibungkus dengan kemasan yang amat rapih. Cover yang didominasi ekspresi perempuan. Nama penulis, Louann Brizendine, serta sebuah tulisan atas dedikasi si penulis, “Hasil penelitian 20 tahun… Temuan terbaru.” Lalu di bawah judul buku <em>Female Brain </em>terdapat <em>tagline</em> berbunyi “Mengungkap Misteri Otak Perempuan.” Sudah terbayang bagaimana tampilan luar yang membungkus buku ini? saya berai bertaruh, Anda, para lelaki, pasti tergiur untuk memilikinya.</p>
<p>Apakah buku ini ditujukan khusus untuk perempuan? Saya berani bertaruh untuk mengatkan tidak. Buku ini sangat menarik, meski tercium “aroma wanita,” namun bukan berarti buku ini ditujukan untuk perempuan. Salah besar jika Anda menilai seperti itu.</p>
<p>Dimulai dengan halaman pertama, Anda akan bertemu dengan sebuah ilustrasi tentang anak perempuan kecil bernama Leila. Sepotong kisah menarik tentang bagaimana kerja otak anak perempuan yang memang sudah didesain untuk selalu menjaga dan merawat. Sebuah truck mainan yang diberikan kepadanya digendongnya seolah truck itu adalah bati kecil yang membutuhkan perlindungan.</p>
<p>Kemudian, ada juga Sheila, kakak perempuan dari Lisa yang lahir pada saat ibu dan ayah mereka bercerai. Memori Sheila tentang ekspresi wajah sang ibu begitu kuat, dia sudah tahu bagaimana ibunya sedih, gembira, suka, dan duka meskipun ia masih tergolong balita. Kehadiran ayah tirinya yang tidak lagi setia sudah bisa terbaca oleh Lisa melalui kemuraman ekspresi di wajah ibunya. Hal ini tidak terjadi pada Lisa, karena dia tidak pernah tahu bagaimana ekspresi sang ibu dalam berbagai hal.</p>
<p>Dan masih banyak kisah lain tentang rahasia perempuan, baik secara psikologi maupun kesehatan yang diungkap. Membacanya, sama halnya dengan menambah rasa hormat Anda—jika Anda seorang lelaki—terhadap wanita, dan rasa kagum Anda—jika Anda perempuan—terhadap kemampuan diri Anda yang luar biasa.</p>
<p>Satu hal yang sering diungkap dalam buku ini: otak manusia dalam merespons cinta itu tidak pernah berubah, bahkan dari zaman batu sekalipun. Ketika lelaki berburu hewan untuk dijadikan santapan dan perempuan menjaga anak-anaknya serta api yang menyala, respons cinta itu tetap sama. Sulit dimengerti. Namun, kesetiaan perempuan yang sudah mencintai Anda, jangan samakan dengan kesetiaan Anda untuk mencintainya.</p>
<p>Apakah Anda masih menganggap buku ini diperuntukkan untuk perempuan? Jika Anda seorang lelaki yang ingin menghargai perasaan perempuan, saya rasa buku ini layak untuk dibaca.</p>
<p>“…Anda akan banyak mendapati kejutan-kejutan, karena banya temuan Dr. Brizendine yang berbeda dari apa yang kita ketahui, percaya, atau yakini selama ini.”—Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi, UI.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=210&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/10/02/resensi-buku-female-brain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qavad.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Curhat</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/07/06/curhat/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/07/06/curhat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 05:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[untuk seseorang bohong jika aku tak menaruh rindu itu padamu. bohong jika aku tak punya perasaan apa pun terhadapmu. jelas, hati ini begitu berdebar jika di dekatmu. aku tak butuh waktu yang banyak untuk merasa jatuh cinta bila di dekatmu. aku tak butuh tempat yang khusus untuk bisa merasa romantis denganmu. kehadiranmu, sekilas saja, itulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=208&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">untuk seseorang</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">bohong jika aku tak menaruh rindu itu padamu. bohong jika aku tak punya perasaan apa pun terhadapmu. jelas, hati ini begitu berdebar jika di dekatmu. aku tak butuh waktu yang banyak untuk merasa jatuh cinta bila di dekatmu. aku tak butuh tempat yang khusus untuk bisa merasa romantis denganmu. kehadiranmu, sekilas saja, itulah momen yang paling aku tunggu. tak butuh kata-kata, mereka itu sia-sia. aku hanya butuh melihat kamu, itu sudah cukup. jika kau juga memberi senyum balik, itu aku anggap sebagai bonus. jika keadaan memungkinkan kita untuk duduk bersama, jujur, aku tak mampu menghindar. rasanya ingin lari, tapi kaki ini terpaku, badan ini seberat jutaan ton massa..</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">sesungguhnya aku senang, tapi di satu sisi aku ingin menangis, entah mengapa, aku merasa dosa bila itu semua kulakukan, tapi aku tidak bisa menghindar. kamu seperti cobaan dan anugerah dalam satu paket. paket komplit. paket paling mahal, karena bisa membawaku ke surga atau ke neraka. kamu seperti dua sisi mata uang. ada surga dan neraka yang kau hadirkan. dan aku hanya berharap, semoga neraka itu tidak terlalu menggodaku, dan surga tidak terlalu berat bagiku..</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">satu helaan nafas yang berat. aku sadar sekarang keadaan dunia seperti apa. aku sadar bagaimana kebanyakan jalan pikir tiap orang. dan aku hanya bisa berdoa, semoga jalan pikiranmu tak terpengaruh oleh banyak orang. Tuhan sudah memperingatkan, mengikuti kebanyakan orang bisa jadi membawamu pada kesesatan..</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">kamu gak perlu ngerti apa tulisan ini. ini hanya curahan hati biasa. gak dibaca pun gak masalah. ini hanya sepenggal curhat, dan banyak doa kuhaturkan saat tulisan ini dibuat. doa untukmu, untukku, untuk Islam..</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div id="_mcePaste">*ini curhat atau apa ya???</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=208&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/07/06/curhat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rain Drops</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/07/02/rain-drops/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/07/02/rain-drops/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 00:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Free Assosiation Writting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Beri tahu aku kapan kiranya lonceng ‘kan berdentang Aku tunggu hadirnya keajaiban Menggenggam tanganmu Menyentuh hatimu Kurasakan sempurna Hadirlah dalam tawa Tumbuhlah menjadi sekuntum bunga Yang menebarkan wangi Hingga ke lembah mimpi Tempat aku berdiam diri Menikmati sunyi Menjadi pelindungmu Sudut ruang hatiku Imaji tentang dirimu Aku padu hitam dan putih Aku rangkai banyak notasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=203&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beri tahu aku kapan kiranya lonceng ‘kan berdentang</p>
<p>Aku tunggu hadirnya keajaiban</p>
<p>Menggenggam tanganmu</p>
<p>Menyentuh hatimu</p>
<p>Kurasakan sempurna</p>
<p style="text-align:right;">Hadirlah dalam tawa</p>
<p style="text-align:right;">Tumbuhlah menjadi sekuntum bunga</p>
<p style="text-align:right;">Yang menebarkan wangi</p>
<p style="text-align:right;">Hingga ke lembah mimpi</p>
<p style="text-align:right;">Tempat aku berdiam diri</p>
<p style="text-align:right;">Menikmati sunyi</p>
<p style="text-align:right;">Menjadi pelindungmu</p>
<p>Sudut ruang hatiku</p>
<p>Imaji tentang dirimu</p>
<p>Aku padu hitam dan putih</p>
<p>Aku rangkai banyak notasi</p>
<p>Menggenggam tanganmu</p>
<p>Menyentuh hatimu</p>
<p>Kurasakan sempurna</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=203&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/07/02/rain-drops/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pidato BSM</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/05/20/pidato-bsm/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/05/20/pidato-bsm/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 13:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Cuma copas aja biar rame Pidato ibu Sri Mulyani Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=199&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuma copas aja biar rame</p>
<p>Pidato ibu Sri Mulyani</p>
<p>Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil<br />
pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari<br />
moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang<br />
sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak<br />
Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap<br />
itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’,<br />
selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini<br />
saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih<br />
atas…… (tepuk tangan)<span id="more-199"></span></p>
<p>Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat<br />
Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous.<br />
Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua<br />
hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya<br />
kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang<br />
harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana<br />
menjelaskan. Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel<br />
yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau<br />
spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal.<br />
Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi<br />
mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang<br />
kebijakan publik dan etika publik. Yang kedua, meskipun tadi mas<br />
Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai<br />
ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai<br />
hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan).</p>
<p>Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika  yang<br />
saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak<br />
boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya<br />
bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak<br />
sesuai dengan amanat pada hari ini. Tapi saya diminta untuk bicara<br />
tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu<br />
topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya,<br />
semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai<br />
menteri di kabinet di Republik Indonesia itu. Suatu penerimaan<br />
jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala<br />
upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik.</p>
<p>Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan<br />
tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya<br />
adalah dimensinya untuk kepentingan publik. Disitu letak pertama dan<br />
sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar,<br />
seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang<br />
filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di<br />
dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat<br />
publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa<br />
yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi<br />
saya dan keluarga, atau kelompok.</p>
<p>Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat<br />
UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun<br />
dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan<br />
acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan<br />
pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami<br />
konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat<br />
kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya<br />
privacy atau kepentingan pribadi.</p>
<p>Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih<br />
dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa<br />
itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir,<br />
merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting.<br />
Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang<br />
disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak.<br />
Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. Jadi<br />
kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat,<br />
Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia<br />
dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk<br />
dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk<br />
mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut<br />
sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur<br />
kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.</p>
<p>Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian<br />
dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu<br />
sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai<br />
pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan<br />
akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi<br />
pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’<br />
Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya<br />
lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari<br />
pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama<br />
punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak<br />
ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk<br />
kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan<br />
staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri<br />
Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan<br />
kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat<br />
besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah<br />
berpikir ngeres mengenai hal itu. Bayangkan, seseorang harus<br />
mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai<br />
dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000<br />
triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun<br />
lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau<br />
bicara uang terus langsung…. (ada air putih langsung datang<br />
diiringi ketawa hadirin).</p>
<p>Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau<br />
governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana<br />
melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang<br />
tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang<br />
dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya<br />
sendiri. Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana<br />
kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin<br />
pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan<br />
kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan<br />
penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan<br />
apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya. Barangkali itu<br />
istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa<br />
juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat<br />
tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi<br />
lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan<br />
label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa,<br />
tingkah laku yang esensial. Nah, di dalam hari-hari dimana kita<br />
harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa<br />
kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang<br />
begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal<br />
maupun eksternal. Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya<br />
bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list<br />
apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya<br />
mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya<br />
bu. Saya menetri boleh semuanya termasuk mecat saya. Kalau seorang<br />
menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat<br />
mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur<br />
birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih<br />
besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita<br />
membuat standard operating procedure, tata cara, tata kelola untuk<br />
membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check<br />
and balance. Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen<br />
kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan.<br />
Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana<br />
produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan<br />
Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi<br />
yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai<br />
korupsi yang sifatnya upstream dan hulu. Dan bahkan dengan<br />
kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena<br />
dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli<br />
sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh.<br />
Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau<br />
kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin<br />
bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak<br />
akan pernah berhenti. Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan<br />
aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal<br />
dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati.<br />
Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena<br />
etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat<br />
apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu<br />
menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus<br />
kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang<br />
menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita. Dan<br />
kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa<br />
ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan<br />
menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya<br />
adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita<br />
bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan,<br />
yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance<br />
kepada kita. Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan<br />
selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi<br />
menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR.<br />
Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada<br />
pura-pura sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi<br />
kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan ‘Ini adalah panggung<br />
politik bu.’ Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya<br />
masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen<br />
Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan<br />
respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan<br />
sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala<br />
macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu<br />
ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh<br />
ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja<br />
dengan tenang menulis pertanyaan-pertanya an mereka. Waktu sudah<br />
ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau<br />
tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, “Ibu tidak<br />
usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama<br />
saja. ” Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang<br />
seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan<br />
etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura,<br />
dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa<br />
itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan<br />
menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut,<br />
norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus<br />
mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi<br />
pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo<br />
nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan<br />
split personality.</p>
<p>Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor<br />
saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung<br />
suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu<br />
itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya<br />
untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan<br />
sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu<br />
sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling<br />
mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin<br />
menjalankan secara konsisten. Nah, oleh karena itu, didalam konteks<br />
inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang<br />
seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi<br />
suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat.<br />
Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan<br />
suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain<br />
kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik.<br />
Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya<br />
double standrart, triple standart.<br />
Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai<br />
konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi<br />
executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang<br />
disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta untuk<br />
melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive<br />
director, do dan don’ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep<br />
konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir<br />
suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap<br />
elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses<br />
kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau<br />
kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau<br />
menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan<br />
mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan<br />
yang baik. Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya<br />
mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda.<br />
Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai<br />
konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat<br />
membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi<br />
kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut<br />
duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan<br />
keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan<br />
yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu<br />
adalah urusan sekunder. Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu<br />
adalah background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan<br />
mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang<br />
tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’<br />
semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan<br />
yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau<br />
dalam bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong<br />
itu. Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak<br />
catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba<br />
besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah<br />
perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali<br />
tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah<br />
menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit<br />
yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara<br />
tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari<br />
kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.<br />
Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and<br />
balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan<br />
dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut<br />
pak. Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas<br />
berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari<br />
yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu.<br />
Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya<br />
aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari<br />
ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di<br />
kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman saya. Jadi<br />
teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mba ani jangan<br />
sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga<br />
diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.” Saya ingin<br />
menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata<br />
konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan<br />
sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk<br />
menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh.<br />
Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan<br />
bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di<br />
dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja.<br />
Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep<br />
barat pasti ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’</p>
<p>Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses<br />
politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang<br />
terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat<br />
atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari<br />
kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia<br />
juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas<br />
atau check terhadap CEO nya.</p>
<p>Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak<br />
orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari<br />
level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa,<br />
apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa<br />
dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya<br />
biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget<br />
dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.<br />
Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu.<br />
Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana<br />
anda mengatakan dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur gaji<br />
pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura<br />
tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau<br />
mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga<br />
muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal<br />
sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai<br />
pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan<br />
strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa<br />
menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.<br />
Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan<br />
sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat<br />
daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya.<br />
Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya<br />
kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga<br />
yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan.<br />
Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi. pertanyaan<br />
untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks<br />
bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik<br />
yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang<br />
membentuk awalnya. KArena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil<br />
akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah<br />
prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal. Dan itu<br />
akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi.<br />
Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau<br />
menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa<br />
ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik<br />
dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin<br />
diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti<br />
itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.<br />
Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau<br />
menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal.<br />
red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri<br />
Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap<br />
bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat<br />
publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana<br />
perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak<br />
yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin,<br />
walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)<br />
Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya<br />
saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali<br />
satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki<br />
lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa<br />
dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak<br />
mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab<br />
untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya<br />
sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan<br />
berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful.<br />
Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak<br />
pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip<br />
itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang<br />
kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh,<br />
bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang<br />
sebetulnya menginginkan itu terjadi agar<br />
nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda<br />
tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur<br />
(ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).<br />
Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa<br />
menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky<br />
tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas<br />
jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya.<br />
Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.</p>
<p>Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini<br />
atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua<br />
kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan<br />
politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih<br />
dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita<br />
punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan<br />
itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak<br />
orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya<br />
akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk<br />
berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan<br />
kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya<br />
cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para<br />
teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah<br />
pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik<br />
yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu<br />
kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya<br />
kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated<br />
with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan<br />
itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is<br />
your enemy.<br />
KArena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak<br />
terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak<br />
sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk<br />
kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di<br />
sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah.<br />
Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih<br />
enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan. Nah kalau<br />
kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa<br />
forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda<br />
yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng<br />
sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak<br />
seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela.<br />
Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu<br />
kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang<br />
seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus<br />
hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim<br />
politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang<br />
seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya<br />
ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu<br />
pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting.<br />
Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian<br />
yang lebih penting<br />
dibandingkan bank dunia.<br />
Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani.<br />
Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena<br />
anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda<br />
semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini<br />
dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan<br />
kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan,<br />
“Jangan pernah putus asa mencintai republik.” Saya tahu, sungguh<br />
sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.<br />
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita.<br />
Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta<br />
membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini,<br />
karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi<br />
dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih<br />
terjadi kasus seperti Gayus. Saya ingin memberikan testimoni bahwa<br />
banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang<br />
yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka<br />
juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia<br />
bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara<br />
karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara<br />
banyak tapi harus bekerja. Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan<br />
dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan<br />
sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin<br />
tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali<br />
oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini<br />
tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi<br />
dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah<br />
buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan<br />
dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan<br />
saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka<br />
untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka<br />
untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara<br />
dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi<br />
Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.<br />
Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan<br />
yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu<br />
orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu<br />
sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu<br />
orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan<br />
yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan,<br />
kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat<br />
kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan,<br />
mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan<br />
pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak,<br />
apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain.<br />
Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang<br />
orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada<br />
saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya.<br />
Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang<br />
atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.<br />
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai<br />
rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu<br />
dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara<br />
terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin<br />
itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan<br />
individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi.<br />
Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah<br />
pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia<br />
sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah<br />
proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim<br />
orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini<br />
khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri<br />
mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang<br />
saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu<br />
penghakiman telah terjadi.</p>
<p>Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses<br />
politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu<br />
kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa<br />
pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu<br />
episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami<br />
konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan<br />
publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang<br />
menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.<br />
Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian<br />
dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani<br />
lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak<br />
yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda<br />
semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya<br />
berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya<br />
karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan<br />
saya tidak disini. (applause)<br />
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya<br />
adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya<br />
tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga<br />
martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih<br />
(standing applause)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=199&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/05/20/pidato-bsm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qardhul Hasan</title>
		<link>http://qavad.wordpress.com/2010/05/03/qardhul-hasan/</link>
		<comments>http://qavad.wordpress.com/2010/05/03/qardhul-hasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 00:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngomong ah...]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qavad.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Man dzalladzii yuqridhullaha qardhan hasanan fayudhaa ifahuu lahuu adh’aa fan katsiirah, wallahu yaqbidhu wayabshuthu wailayhi tur ja’uun (QS. 2:245)* *maaf, karena saya tidak terbiasa menggunakan font arab, maka saya pakai font latin saja. Allah menyuruh kita kepada yang makruf (kebaikan yang kita ketahui), karena saya bisanya pakai latin, ya saya lakukan itu. “Barang siapa meminjami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=197&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Man dzalladzii yuqridhullaha qardhan hasanan fayudhaa ifahuu lahuu adh’aa fan katsiirah, wallahu yaqbidhu wayabshuthu wailayhi tur ja’uun (QS. 2:245)*</p>
<p>*maaf, karena saya tidak terbiasa menggunakan font arab, maka saya pakai font latin saja. Allah menyuruh kita kepada yang makruf (kebaikan yang kita ketahui), karena saya bisanya pakai latin, ya saya lakukan itu.</p>
<p>“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadamu dengan banyak, Allah Menahan dan Melapangkan (rejeki) dan kepada-Nyalah kamu kembali” (QS. Albaqarah:245)</p>
<p>Ayat di atas menjadi dalil akad pinjam-meminjam dalam Islam. Artinya, pinjam-meminjam dalam pandangan syariah dibenarkan. Permasalahannya adalah, pinjaman yang seperti apa?</p>
<p>Dalam ayat di atas terdapat kata “qardhan hasanan” atau biasa lebih dikenal sebagai akad qardhul hasan. Apa itu qardhul hasan? Qardhul hasan adalah pinjam-meminjam tanpa disertai bunga. Bila suatu saat si peminjam tidak dapat mengembalikannya, maka berikan kelonggaran waktu pembayaran baginya. Namun, jika si peminjam benar-benar tidak bisa mengembalikannya, maka si pemberi pinjaman harus menganggapnya sebagai sedekah.</p>
<p>Akad qardhul hasan hanya bisa terjadi untuk pinjaman yang bersifat darurat, pemenuhan kebutuhan hidup misalnya, bukan untuk pinjaman yang bersifat konsumtif apalagi untuk bermain judi. Oleh karena itu, dalam melakukan akad qardhul hasan sebaiknya dilihat dulu siapa orang yang akan diberi pinjaman.</p>
<p>Saat pinjaman tidak bisa ditagih, maka si pemberi pinjaman akan menganggapnya sebagai sedekah. Apakah si pemberi pinjaman itu rugi? Tentu tidak. Ayat di atas sebagai jaminannya. Memberikan pinjaman kepada orang yang sangat memerlukan, secara tidak langsung kita telah menolongnya dari ketergantungannya dengan uang. Jadi, tidak ada istilah uang menjadi Tuhan, yang selalu membuat mereka (si peutang) menjadi tergantung padanya.</p>
<p>Hal ini pada akhirnya telah menjadikan Allah kembali menjadi Tuhan, bukan uang yang menjadi Tuhan. Dengan kata lain, kita telah menolong keyakinan orang yang berutang tersebut. Inilah yang akhirnya menjadi pandangan bahwa sebenarnya kita telah melakukan  pinjam-meminjam dengan Allah, sebab orang yang berutang tidak sanggup melunasi utangnya pada kita. Apa untungnya pinjam-maminjam dengan Allah? Sesuai yang telah dijanjikan-Nya, Dia akan melipatgandakan ganti kepadamu. Apa dalam bentuk uang? Bisa saja, tapi Allah tentu lebih tahu apa kebutuhan kita. Tentu bukan hanya uang, bisa saja Allah memberikan kesehatan, harta yang berkah, anak yang sholeh, jodoh *ehem* dan banyak hal yang tak bisa kita hitung. Berlipat ganda!</p>
<p>Jadi, masih jaman tuh pinjaman dengan bunga? Mau minjemin atau nyiksa umat tuh?</p>
<p>*nb: makasi Uni Arizona, sekalian ngapalin ayat nih, hehe</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qavad.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qavad.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qavad.wordpress.com&amp;blog=3754375&amp;post=197&amp;subd=qavad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qavad.wordpress.com/2010/05/03/qardhul-hasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86beb3928d3538e13f6f9cc9ffa31c3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">qavad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
