Jujur, ini isinya bagus banget. Ketika saya ngenet, tiba-tiba menemukan tulisan ini pada folder E. Rasanya sayang bila tidak berbagi, karena itu tulisan ini saya sebarluaskan via blog yang masih minim pembaca inih. Semoga bermanfaat, dan untuk penulis, semoga diberi ketabahan karena tulisan ini saya publikasikan. Oiya, nama penulis aslinya tertera di bawah, harap maklum yah….

(more…)

Saat yang tepat kala kita berdua,
saat yang tepat untuk angin tertawa,
menyapa kata yang terpenjara
menyapa hati yang tak terbaca

Tiba saatnya yang itu,
yang dulu kita tak tahu
entah malam yang jenuh
atau cerita yang melucu
atau banyak hal yang merancu
……lain lagi,
…………dan lain lagi

Aku berusaha berpegang pada kencana.
Namun kau tetap menarikku kembali
untuk tetap berlabuh di tepi tawa,
menyandarkan hati untuk selalu bersemi.
Pulang ke pangkuan pantaimu
pulang menyisir tepian lautmu

Jingga yang teramat rendah hati
dalam sore tanpa awan kelam,
aku punya segenggam memori di sini
untuk merekam kenangan sebelum malam
sebelum matahari berpamit pulang
dalam kemilau jutaan kerancuan
aku tetap memilih tetap di sini

………………bersamamu…
……..menembus batas khayalan…
dan meneropong ilusi di tiap terkaan

Sulit sekali memejamkan mata malam ini. Aku kembali melirik lemari bajuku. Di situ aku menaruh coklat berbentuk hati khusus untuk ibuku. Aku ingin memberi ini di pagi hari nanti. Ini hadiah kejutan untuknya, sebuah kado valentine.

Sebenarnya aku tak pernah tahu tentang valentine. Namun teman-temanku di sekolah dasar sudah ramai membicarakan hal ini. Contoh saja Rini yang sudah menyiapkan sebuah lagu untuk dinyanyikan di depan ibunya nanti saat valentine. Belum lagi ada Nino yang katanya diajak oleh ayahnya untuk makan malam bersama ibunya demi menyambut datangnya valentine. Dan banyak teman lainnya yang umumnya ingin memberikan cokelat pada orang tuanya masing-masing.

Lalu aku, aku sendiri belum punya persiapan apa-apa. Aku baru saja mengetahui jika valentine adalah hari kasih sayang. Aku baru tahu bahwa cokelat menjadi begitu sakral di hari itu. Dan aku sekarang sudah tahu, aku juga harus merayakannya. Aku sayang sama ibu. Aku ingin memberinya sebuah hadiah valentine untuk ibu. Aku harus berikan cokelat ini sebagai hadiah valentine, biar ibu tahu kalau aku begitu menyayanginya.
***

(more…)

Aduh, kangen banget udah lama gak posting lagi di blog sendiri. Mungkin ada sekitar beberapa bulan sejak tulisan “Akhir Cerita Si Gigi Bungsu” dimuat, saya sudah tidak pernah berposting ria lagi. Untuk para fans mohon maaf ya, atas kevakuman saya selama beberapa bulan ini. Bukan maksud hati ingin meninggalkan jagat per-blog-an, tetapi memang banyak hal yang menghambat untuk saya memperbarui tulisan yang ada.

Kenapa tiba-tiba berjudul terima kasih? Jujur saja, ini untuk pengucapan terima kasih kepada semua kawan yang telah memberi ucapan “selamat ulang tahun” kepada saya via dunia maya (fs, fb).

(more…)

 

Perpisahan saya dengan gigi bungsu saya akhirnya terjadi juga. Sudah sejak saya SMA, saya divonis bahwa gigi graham bagian belakang sebelah kiri saya itu tumbuh tidak normal. Menurut paradokter atau mungkin paranormal (karena kebanyakan dari dokter adalah orang yang sok tahu, atau saya yang tidak tahu? Sudahlah, tak usah dibahas), gigi yang biasa disebut gigi bungsu ini tumbuh tanpa ijin mendirikan bangunan (emangnya rumah?). Jadi, rahang saya yang terlihat proporsional ini sudah tidak muat lagi bila ditempati oleh satu gigi lagi. Sehingga, gigi ini tumbuh secara liar seperti rumah-rumah di bantaran kali.

 

Karena posisinya yang kurang menguntungkan, maka gigi ini harus dicabut. Tentu tanpa ada ganti rugi, sama seperti pemukiman liar yang digusur. Satu hal lagi yang menyebabkan gigi ini wajib dicabut adalah karena gusi yang menutupi gigi ini tidak terbuka dengan sempurna. Kalau dibayangkan, gigi graham saya yang tumbuh dengan tidak normalnya itu bagian yang keliatannya hanya sedikit, sekitar 29,719% (data ini diperoleh dari badan pengawasan gigi dan gusi, klik di sini kalau bisa). Dengan kata lain, gigi graham alias si bungsu ini tidak muncul di permukaan gusi secara utuh. Ngerti kan? Jadi gini loh, ada gusi sama gigi graham. Nah, graham ini ketutup sama gusi. Dan kata dokter juga gusi ini kemungkinan kecil untuk bisa terbuka, karena rahang bawahnya tidak mungkin melebar lagi, dan kecil kemungkinan untuk gusi ini terbuka seutuhnya.

(more…)

Angin menebas angkasa
Kelakuannya seperti anak kecil
Tak berkaca pada kata
Tak bertuan pada frasa

Sejuk kehidupan bersamamu
Kau keistimewaan cuma-cuma
Yang mengirim pesan-pesan damai
Yang membawa kejujuran pada bumi

— alunan ceria berlompatan—

Kesempatanku untuk bercerita
Tentang cara merayu wanita
Pada angin tak bermuka
Biar pesannya sampai segera
Menggelitik indera manusia
Supaya mungkin ada yang tergoda
Pada bualan besarku
Pada hikayat pangeran tukang tipu

selama ini yang aku sadar
aku ingin memelukmu diam-diam
saat kau lengah dari duniamu
saat itu mungkin lenganku mampu
menjamahmu (more…)

Menemanimu di tiap musim yang berlalu
ada kalanya sedih dan sulit myang kita jalani
namun, kita juga alami tawa juga canda
perlahan kita adalah serpihan yang menyatu
bersama membentuk kepaduan
kita dalam saling memahami
kita dalam saling berbagi
(more…)

Tepatnya hari Senin. Bukan hari Minggu atau Sabtu. Apalagi hari ibu, udah lewat tau! Atau hari Sial dan mujur, begitulah kira-kira. Deskripsinya terkesan membingungkan, tapi teruslah membaca. Karena membaca adalah sumber ilmu. Adalah benar pendapat ini.

Bayangkan jika Kamu adalah saya. Kenyataannya tidak mungkin, tapi coba bayangkan. Anda seperti saya, berkacamata, tampan, bersuara cihuy, soleh dan berprestasi, dan disukai banyak wanita. Saya jadi teringat sebuah parody iklan “Enggak semua yang lu baca itu benar”, sepertinya hal ini perlu dipertimbangkan oleh pembaca tentang gambaran diri saya tadi.

Bayangkan Kamu pergi sendirian ke CiWalk (jalan Cihampelas, Bandung). Bayangkan Kamu memasuki parkiran motor yang tidak terlalu ramai. Bayangkan Kamu mengambil tiket parkir. Bayangkan mba-mbanya tonggos. Bayangin udah tonggos, jutek pula. Bayangin mba itu ada bekas luka di pipi kirinya. Udah kebayang? Sebaiknya jangan dibayangkan terlalu lama. Takut gak bisa tidur setelah membaca ini.

(more…)

Bulan berkata jujur padaku tentang
malam yang menyambut nyanyian
tiap yang menetes menjadi sesuatu
yang terlahir dari rahim seorang yang suci

Kemudian bulan memerah
menampakkan semburat keanggunan
tampak titik itu bukan noda
tapi rangkaian imajinasi
yang terhenti…

Langkah-langkah yang mulai tertatih
malam akan larut menghantuimu
membiarkan pagi datang,
membawa kabar “Siapa yang
mampu menidurimu?
gelang-gelang terburai disampingmu,
namun tak satu pun penjadi luka,
apa noda melantun ragu?”

Demi jingga sebelum gelap
aku melihat bidadari tersenyum
oh… indahnya
siapa yang mampu menidurimu?

Sepasang ikan pada kolam
beriak-riak air hingga ke tepi
anak kecil tertawa renyah
rupanya pagi menghembuskan nyawa baru,
sebelum napasmu tiba
di pangkal tenggorok
rupanya masih ada
sepercik keagungan yang
bisa aku masukkan kedalam paru-paru

Kapan aku berikhtiar di sampingmu?
apa sebelum malam kembali
menutup diri dengan cadar,
sebelum malam kembali
larut dalam tawa kita?
atau mungkin senyumku
melebihi setengah waktu,
yang tak jauh dari kata
membosankan?

Maaf, bolehkah aku
melupakanmu? karena di sini aku
menemukan dirimu yang lain
bercengkrama dengan ilalang dan
mengenakan gaun indah, menantiku

« Previous PageNext Page »